Tampilkan postingan dengan label islami. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label islami. Tampilkan semua postingan
Kamis, 29 Maret 2012
Seorang pemuda bertanya kepada ibunya :
“Ibu, ceritakan padaku tentang Ikhwan Sejati”
Sang Ibu tersenyum dan menjawab :
Ikhwan sejati bukanlah dilihat dari bahunya yang kekar
o Tetapi dari kasih sayangnya kepada orang di sekitarnya
Ikhwan sejati bukanlah dilihat dari suaranya yang lantang
o Tetapi dari kelembutannya mengatakan kebenaran
Ikhwan sejati bukanlah dilihat dari jumlah sahabat di sekitarnya
o Tetapi dari sikap bersahabatnya kepada generasi muda bangsa
Ikhwan sejati bukanlah dilihat dari bagaimana dia dihormati di tempat kerja
o Tetapi bagaimana dia dihormati di dalam rumah
Ikhwan sejati bukanlah dilihat dari kerasnya pukulan
o Tetapi dari sikap bijaknya memahami persoalan
Ikhwan sejati bukanlah dilihat dari dadanya yang bidang
o Tetapi dari hati yang ada di balik itu
Ikhwan sejati bukanlah dilihat dari banyaknya akhwat yang memuja
o Tetapi dari komitmennya terhadap akhwat yang dicintainya
Ikhwan sejati bukanlah dilihat dari jumlah barbel yang dibebankan
o Tetapi dari tabahnya dia menjalani lika-liku kehidupan
Ikhwan sejati bukanlah dilihat dari kerasnya dia membaca al-Qur’an
o Tetapi dari konsistennya dia menjalankan apa yang dia baca
Setelah itu, pemuda tadi bertanya lagi :
“Siapakah yang dapat memenuhi kriteria seperti itu, Bu?”
Sang Ibu memberinya buku dan berkata :
“Pelajari tentang dia.”
Sang Pemuda pun mengambil buku itu.
‘MUHAMMAD’, judul yang tertulis di buku itu.
Ikhtilat …
Kategori : Tazkiyatun Nufus
Diakses : 1801
________________________________________
Oleh: Syaikh Abdullah bin Jaarullah bin Ibrahim Al-Jaarullah
Ikhtilat adalah berkumpulnya beberapa laki-laki dan wanita yang bukan mahramnya di satu tempat, yang memungkinkan terjadinya hubungan diantara mereka apakah melaui pandangan mata, isyarat ataupun dengan bercakap-cakap.
Hukum Ikhtilat
Ikhtilat adalah perbuatan yang diharamkan oleh Allah dan termasuk perkara yang sangat berbahaya yang Allah subhanahu wata’ala telah memperingatkan kaum muslimin dari padanya, karena ikhtilat antara dua jenis –laki-laki dan wanita-merupakan sebab yang terbesar dan yang paling mudah untuk mengantarkan pada perbuatan fahisya (yakni zina). Padahal Allah berfirman :
“Dan janganlah kalian mendekati zina, sesungguhnya zina itu adalah perbuatan keji, dan merupakan jalan yang buruk.” (Al-Israa’ : 32).
Dan yang paling berbahaya dari ikhtilat adalah khalwat yakni bersendirian/bersepi-sepinya laki-laki dan wanita yang bukan mahram di satu tempat, karena khalwt merupakan jalan masuknya syaithan. Rasulullah shalallahu ‘alaihi wsallam bersabda :
“Tidaklah seorang laki-laki bersendirian dengan seorang seorang wanita (yang bukan mahramnya) melainkan syaithan yang ketiganya.” (HR.Ahmad, Tirmidzi dan Hakim, dan Hakim menshahihkannya)
Dalil-dalil Tentang Haramnya Khalwat.
1. Firman Allah : “ Dan apabila kalian meminta sesuatu (keperluan) kepada mereka (istri-istri nabi) maka mintalah dari belakang tabir (hijab). Cara yang demikian itu lebih suci bagi hati kalian dan hati mereka.” (Al-Ahzab : 53)
2. Sabda Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam : “Hati-hatilah kalian untuk masuk ke tempat para wanita “ Maka salah seorang laki-laki dari kalangan anshar : “Bagaimana pendapatmu (Ya Rasulullah) tentang Al-Hamwu ?” Rasulullah menjawab : “ Al-Hamwu adalah kematian.” (Mutafaqqun ‘alaihi).
Al-Hamwu adalah kerabat suami, seperti saudara laki-lakinya (ipar), putra dari pamannya (saudara misan). Kekhawatiran terhadap Al-Hamwu ini justru lebih besar dibanding dengan kekhawatiran terhadap yang lain. Fitnahnya pun labih besar pula karena sangat mungkin baginya untuk berhubungan dengan pihak wanita (istri) dan berkhalwat dengannya tanpa adanya pengingkaran (kecurigaan), karena dianggap dari keluarga. Berbeda kalau laki-laki itu orang asing bukan keluarga si suami.
Maka makna dari hadits di atas adalah berhati-berhatilah (jauhilah) untuk bercampur baur (ikhtilat) dan bersepi-sepi (khalwat) dengan para wanita dengan tanpa adanya mahram si wanita.
3. Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda : “Janganlah salah seorang diantara kalian (laki-laki) bersepi-sepi (berkhalwat) dengan wanita malainkan harus disertai mahramnya.” (Mutafaqqun’alaihi).
Hakekat Khalwat.
Yang dimaksud dengan khalwat adalah bersendiriannya seorang laki-laki dengan seorang wanita yang bukan mahram, keduanya dalam keadaan tersembunyi dari pandangan orang lain (berduaan). Yang demikian ini merupakan kenyataan yang banyak terjadi di sekitar kita, misalnya di rumah-rumah kaum muslimin yang mempekerjakan pembantu-pembantu rumah tangga (khadimah). Dan juga sudah menjadi rahasia umum, seringnya tuan rumah, atau salah seorang putranya, atau salah seorang laki-laki kerabatnya, berkhalwat dengan khadimahnya tatkala penghuni rumah/anggota kelurga yang lain sedang keluar karena satu dan lain keperluan. Dan pada saat yang demikian inilah dikhawatirkan datangnya syaitan sebagai pihak ke tiga untuk memainkan perannya, sebagaimana dikhabarkan oleh rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam dalam hadits yang telah disebutkan di awal tulisan. Hadits tersebut tentu saja ditujukan kepada semua laki-laki dan wanita, tak peduli apakah dia orang shalih atau lanjut usia.
Kenyataan pula yang terjadi di sekitar kita dari ikhtilat dan khalwat yang menimpa sebagian kaum muslimin, yang bahayanya tidak sedikit dibandingkan sebelum mempekerjakan pembantu laki-laki dan sopir pribadi di rumahnya. Kita lihat mereka (sopir dan khodim) sering menyertai dan bepergian dengan para wanita penghuni rumah tersebut, tanpa adanya mahram.
Kita juga melihat sebagian dari mereka menyuruh sopirnya untuk mengantarkan anak putrinya ke sekolah, atau membiarkan salah seorang mahramnya ke pasar dengan dikawal sopir. Kalau ada yang bertanya : “Bagaimana bila sopirnya itu baik-baik orang shalih dan bertaqwa?” Sekalipun sopirnya orang yang shalih, apalagi yang selain itu dari orang-orang awam yang jauh dari tuntunan agama. Karena hadits yang telah lalu menyatakan : “Tidaklah seorang laki-laki bersendirian dengan seorang wanita (yang bukan mahramnya) kecuali yang ketiganya adalah syaithan.” Dalam hadits ini tidaklah diberi perkecualian bagi laki-laki shalih dan wanita shalihah.
Termasuk ikhtilat yang diharamkan adalah safarnya (bepergian) seorang wanita dengan yang bukan mahramnya. Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda : “ Janganlah seorang wanita bepergian , kecuali bersama mahramnya. “ (Mutafaqun Alaihi, dari Ibnu Abbas radhiallahu anhu), karena hal itu merupakan sebab terjadinya fitnah dan kehancuran.
Termasuk ikhtilat yang dilarang adalah bercampurnya anak-laki-laki dan anak-anak perempuan setelah mereka berusia remaja (mumayyiz) dalam satu tempat tidur sekalipun mereka adalah saudara kandung. Karena nabi shalallahu ‘alaihi wasallam telah memerintahkan untuk memisahkan tempat tidur atau kamar mereka, sebagaimana hadits berikut : “Ajarilah anak-anak kalian shalat tatkala mereka berumur tujuh tahun, dan pukullah mereka bila meninggalkan shalat pada usia sepuluh tahun dan pisahkan tempat tidur mereka.” (Lihat shahihul Jami’ oleh Al-Bani).
Berdasarkan semua yang tersebut di atas, jelaslah bahwa orang-orang yang membiarkan wanita-wanita bukan mahram berikhtilat dengan anak-anak laki-laki mereka atau sebaliknya, sesungguhnya mereka telah menjerumuskan diri mereka sendiri dan keluarga mereka ke dalam bahaya yang besar. Yang berarti pula mereka telah merusak masyarakat seluruhya.
[Kontributor : Atho ibn sanady, 01 Desember 2001 ]
Indahnya Hidup Bersahaja
Bismillahirrohmaanirrohiim,
Saudara-saudaraku Sekalian,
Kita tidak perlu bercita-cita membangun kota Jakarta, lebih baik kita bercita-cita tiap orang bisa membangun dirinya sendiri. Paling minimal punya daya tahan pribadi terlebih dahulu. Karenanya sebelum ia memperbaiki keluarga dan lingkungannya minimal dia mengetahui kekurangan dirinya. Jangan sampai kita tidak mengetahui kekurangan sendiri.
Jangan sampai kita bersembunyi dibalik jas, dasi dan merk. Jangan sampai kita tidak mempunyai diri kita sendiri. Jadi target awal dari pertemuan kita adalah membuat kita berani jujur kepada diri sendiri. Mengapa demikian? Sebab seorang bapak tidak bisa memperbaiki keluarganya, kalau ia tidak bisa memperbaiki dirinya sendiri. Jangan mengharap memperbaiki keluarga kalau memperbaiki diri sendiri saja tidak bisa. Bagaimana berani memperbaiki diri, jika tidak mengetahui apa yang mesti diperbaiki.
Kita harus mengawali segalanya dengan egois dahulu, sebab kita tidak bisa memperbaiki orang lain kalau diri sendiri saja tidak terperbaiki. Seorang ustad akan terkesan omong kosong, jika ia berbicara tentang orang lain agar memperbaiki diri sedang ia sendiri tidak benar. Dalam bahasa Al-Qur’an, "Sangat besar kemurkaan Allah terhadap orang berkata yang tidak diperbuatnya".
Mudah-mudahan seorang ibu yang tersentuh mulai mengajak suaminya. Seorang anak mengajak orang tuanya, di kantor seorang bos yang berusaha memperbaiki diri diperhatikan oleh bawahannya dan membuat mereka tersentuh.
Seorang kakek dilihat oleh cucunya kemudian tersentuh. Mudah-mudahan dengan kegigihan memperbaiki diri nantinya daya tahan rumah mulai membaik. Kalau sudah daya tahan rumah membaik insyaAllah, kita bisa berbuat banyak untuk bangsa kita ini. Mudah-mudahan nanti setiap rumah tangga visinya tentang hidup ini menjadi baik.
Tahap selanjutnya adalah mau dibawa kemana rumah tangga kita ini, apakah mau bermewah-mewahan, mau pamer bangunan dan kendaraan atau rumah tangga kita ini adalah rumah tangga yang punya kepribadian yang nantinya akan menjadi nyaman. Jangan sampai rumah tangga kita ini menjadi rumah tangga yang hubuddunya, karena semua penyakit akarnya dari cinta dunia ini. Orang sekarang menyebutnya materialistis.
Bangsa ini roboh karena pecinta dunianya terlalu banyak. Acara tv membuat kita menjadi yakin bahwa dunia ini alat ukurnya adalah materi. Pelan tapi pasti kita harus mulai mengatakan dunia ini tidak ada apa-apanya. Di dunia ini kita hanya mampir. Dengan konsep yang kita kenal yaitu rumus ‘tukang parkir’. Yang tadinya bangga dengan merk menjadi malu dengan topeng yang dikenakannya. Nanti pelan-pelan akan menjadi begitu.
Bukannya kita harus hidup miskin. Nanti akan terjadi suasana di rumah tidak goyah, lebih sabar, melihat dunia menjadi tidak ada apa-apanya dan tidak sombong. Lihat kembali rumus ‘tukang parkir’, ia punya mobil tidak sombong, mobilnya ganti-ganti tidak takabur, diambil satu persatu sampai habis tidak sakit hati. Mengapa ? karena tukang parkir tidak merasa memiliki hanya tertitipi.
Ketika melihat orang kaya biasa saja karena sama saja cuma menumpang di dunia ini jadi tidak menjilat, kepada atasan tidak minder, suasana kantor yang iri dan dengki jadi minimal.
Saudara-saudaraku Sekalian,
Jadi visi kita terhadap dunia ini akan berbeda. Kita tidak bergantung lagi kepada dunia, tidak tamak, tidak licik, tidak serakah. Hidup akan bersahaja dan proporsional. Sekarang kita sedang krisis, masa ini dapat menjadi momentum karena dengan krisis harga-harga naik, kecemasan orang meningkat, ini kesempatan kita buat berdakwah. Mau naik berapa saja harganya tidak apa-apa yang penting terbeli. Jika tidak terjangkau jangan beli, yang penting adalah kebutuhan standar tercukupi. Orang yang sengsara bukan tidak cukup tetapi karena kebutuhannya melampaui batas. Padahal Allah menciptakan kita lengkap dengan rezekinya.
Mulai dari buyut kita yang lahir ke dunia tidak punya apa-apa sampai akhir hayatnya masih makan dan dapat tempat berteduh terus. Orang tua kita lahir tidak membawa apa-apa sampai saat ini masih makan terus, berpakaian, dan berteduh. Begitu pula kita sampai hari ini. Hanya saja disaat krisis begini kita harus lebih kreatif.
Mustahil Allah menciptakan manusia tanpa rezekinya kita akan bingung menghadapi hidup. Semua orang sudah ada rezekinya. Dan barangsiapa yang hatinya akrab dengan Allah dan yakin segala sesuatu milik Allah, tiada yang punya selain Allah, kita milik Allah. Kita hanya mahluk dan yang membagi, menahan dan mengambil rezeki adalah Allah. Orang yang yakin seperti itu akan dicukupi oleh Allah.
Jadi kecukupan kita bukan banyak uang, tetapi kecukupan kita itu bergantung dengan keyakinan kita terhadap Allah dan berbanding lurus dengan tingkat tawakal. Allah berjanji "Aku adalah sesuai dengan prasangka hamba-Ku". Jadi jangan panik. Allah penguasa semesta alam.
Ini kesempatan buat kita untuk mengevaluasi pola hidup kita. Yang membuat kita terjamin adalah ketawakalan. Jadi yang namanya musibah bukan kehilangan uang, bukan kena penyakit, musibah itu adalah hilangnya iman. Dan orang yang cacat adalah yang tidak punya iman, ia gagal dalam hidup karena tidak mengerti mau kemana.
Jadi kita tidak punya alasan untuk panik. Krisis seperti ini ada diman-mana, kita harus kemas agar berguna bagi kita. Kita tidak bisa mengharapkan yang terbaik terjadi pada diri kita, tapi kita bisa kemas agar menjadi yang terbaik bagi diri kita. Kita tidak bisa mengharapkan orang menghormati kita, tapi kita bisa membuat penghinaan orang menjadi yang terbaik bagi diri kita.
Hal pertama yang harus kita jadikan rahasia kecukupan kita adalah ketawakalan kita dan kedua adalah prasangka baik kepada Allah, yang ketiga adalah Lainsakartum laadziddanakum,"Barangsiapa yang pandai mensyukuri nikmat yang ada", Allah akan membuka nikmat lainnya.
Jadi jangan takut dengan belum ada, karena yang belum ada itu mesti ada kalau pandai mensyukuri yang telah ada. Jadi dari pada kita sibuk memikirkan harga barang yang naik lebih baik memikirkan bagaimana mensyukuri yang ada.
Karena dengan mensyukuri nikmat yang ada akan menarik nikmat yang lainnya. Jadi nikmat itu sudah tersedia. Jangan berpikir nikmat itu uang. Uang bisa jadi fitnah. Ada orang yang dititipi uang oleh Allah malah bisa sengsara, karena ia jadi mudah berbuat maksiat. Yang namanya nikmat itu adalah sesuatu yang dapat membuat kita dekat dengan Allah. Jadi jangan takut soal besok/lusa, takutlah jika yang ada tidak kita syukuri.
Satu contoh hal yang disebut kurang syukur dalam hidup itu adalah kalau hidup kita itu Ishro yaitu berlebihan, boros, dan bermewah-mewahan. Hati-hati yang suka hidup mewah, yang senang kepada merk itu adalah kufur nikmat. Mengapa? Karena setiap Allah memberi uang itu ada hitungannya.
Mereka yang terbiasa glamour, hidup mewah, yang senang kepada merk termasuk yang akan menderita karena hidupnya akan biaya tinggi. Pasti merk itu akan berubah-ubah tidak akan terus sama dalam dua puluh tahun. Harus siap-siap menderita karena akan mengeluarkan uang banyak utnuk mengejar kemewahannya, untuk menjaganya dan untuk perawatannya.
Dia juga akan disiksa oleh kotor hati yaitu riya'. Makin mahal tingkat pamernya makin tinggi. Dan pamer itu membutuhkan pikiran lebih, lelah dan tegang karena rampok akan berminat. Inginnya diperlihatkan tapi takut dirampok jadinya pening. Makin tinggi keinginan pamer makin orang lain menjadi iri/dengki.
Pokoknya kalau kita terbiasa hidup mewah resikonya tinggi. Ketentraman tidak terasa. Hal yang bagus itu adalah yang disebut syukur yaitu hidup bersahaja atau proporsional. Kalau Amirul Mukminin hidupnya sangat sederhana, kalau seperti kita ini hidup bersahaja saja, biaya dan perawatan akan murah.
Kalau kita terbiasa hidup bersahaja peluang riyanya kecil. Tidak ada yang perlu dipamerkan. Bersahaja tidak membuat orang iri. Dan anehnya orang yang bersahaja itu punya daya pikat tersendiri. Pejabat yang bersahaja akan menjadi pembicaraan yang baik.
Artis yang sholeh dan bersahaja selalu bikin decak kagum. Ulama yang bersahaja itu juga membuat simpati. Juga harus hati-hati kita sudah capai-capai hidup glamor belum tentu dipuji bahkan saat sekarang ini akan dicurigai.Yang paling penting sekarang ini kita nikmati budaya syukur dengan hidup proporsional. Jangan capai dengan gengsi, hal itu akan membuat kita binasa.
Miliki kekayaan pada pribadi kita bukan pada topeng kita. Percayalah rekan-rekan sekalian kita akan menikmati hidup ini jika kita hidup proporsional.
Nabi Muhammad SAW tidak memiliki singgasana, istana bahkan tanda jasa sekalipun hanya memakai surban. Tetapi tidak berkurang kemuliaanya sedikitpun sampai sekarang. Ada orang kaya dapat mempergunakan kekayaannya.
Dia bisa beruntung jika ia rendah hati dan dermawan. Tapi ia bisa menjadi hina gara-gara pelit dan sombong. Ada orang sederhana ingin kelihatan kaya inilah yang akan menderita. Segala sesuatu dikenakan, segalanya dicicil, dikredit. Ada juga orang sederhana tapi dia menjadi mulai karena tidak meminta-minta, jadi terjaga harga dirinya. Dan ada orang yang mampu dan ia menahan dirinya ini akan menjadi mulia.
Mulai sekarang tidak perlu tergiur untuk membeli yang mahal-mahal, yang bermerk. Supermarket, mal dan sebagainya itu sebenarnya tidak menjual barang-barang primer. Allah Maha Menyaksikan. Apa yang dianjurkan Islam adalah jangan sampai mubadzir. Rasul SAW itu kalau makan sampai nasi yang terakhir juga dimakan, karena siapa tahu disitulah barokahnya. Kalau kita ke undangan pesta jangan mengambil makanan berlebihan. Ini sangat tidak islami. Memang kita enak saja rasanya tapi demi Allah itu pasti dituntut oleh Allah. Dan itu mempengaruhi struktur rezeki kita, karena kita sudah kufur nikmat. Kita harus bisa mempertanggungjawabkan setiap perbuatan kita karena tidak ada yang kecil dimata Allah. Tidak ada pemborosan karena semua dihitung oleh Allah.
Contohnya mandi, kalau bisa bersih dengan lima sampai tujuh gayung tapi mengapa harus dua puluh gayung. Kita mampu beli air tetapi bukan untuk boros. Ini penting kalau ingin barokah rezekinya, hematlah kuncinya. Kalau merokok biaya yang kita keluarkan adalah besar hanya untuk membuang asap dari mulut kita.
Jangan cari alasan. Seharusnya sudah saatnya berhenti merokok. Cobalah ingat ini uang milik Allah. Kemudian sabun mandi, jangan memakai sesuka kita, takarlah atau kalau perlu pakai sabun batangan. Kenapa kalau kita bisa hemat tidak kita lakukan. Uang penghematan kita bisa gunakan untuk sedekah atau menolong orang yang lebih membutuhkan. Sedekah itu tidak akan mengurangi harta kita kecuali bertambah dan bertambah.
Ini pelajaran supaya hidup kita dijamin oleh Allah. Kita tidak bisa terjamin oleh harta/tabungan, kalau Allah ingin membuat penyakit seharga dua kali tabungan kita sangat gampang bagi Allah. Tidak ada yang dapat menjamin kita kecuali Allah oleh karena itu jangan merasa aman dengan punya tabungan, tanah, dan warisan. Dengan gampang Allah dapat mengambil itu semua tanpa terhalang.
Aman itu justru kalau kita bisa dekat dengan Allah. Mati-matian kita jaga kesehatan, kalau Allah inginkan lain gampang saja. Semua harta tidak bisa kita nikmati, tetapi kalau Allah melindungi kita Insya Allah. Marilah hidup hemat, tetapi hemat bukan berarti pelit.
Proporsional atau adil adalah puncak dari ahlak. Contohnya HP, kalau tidak terlalu perlu jual saja lagi. Janganlah dimiliki kalau hanya untuk gaya saja. Penghematan akan mengundang barokah inilah yang disebut syukur nikmat. Tujuan bukan mencari uangnya tetapi mempertanggung jawabkan setiap rupiah yang Allah titipkan.
Hal lain yang membuat barokah adalah jika kita dapat mendayagunakan semua barang-barang kita. Di gudang kita pasti banyak barang yang tidak kita pakai tetapi sayang untuk dibuang. Coba lihat lemari pakaian kita banyak baju-baju lama, begitu juga sepatu-sepatu lama kita.
Keluarkanlah barang-barang yang tidak berharga tersebut. Misalkan dirumah kita ada panci yang sudah rongsokan, jika kita keluarkan ternyata merupakan panci idaman bagi orang lain. Di rumah kita tidak terpakai tetapi jika dipakai orang lain dengan kelapangannya dan mengeluarkan doa bisa jadi itulah yang membuat kita terjamin.
Kalau kita ikhlas, demi Allah itu lebih menjamin rezeki kita daripada tidak terpakai di rumah. Setiap barang-barang yang tidak bermanfaat tetapi bermanfaat bagi orang lain itulah pengundang rezeki kita. Bersihkan rumah kita dari barang-barang yang tidak berguna. Lebih baik rusak digunakan orang lain daripada rusak dibiarkan di rumah, itu akan barokah rezekinya.
Ini kalau kita ingin terjamin, namanya teori barokah. Kita tidak akan terjamin dengan teori ekonomi manapun. Sudah berapa banyak sarjana ekonomi yang dihasilkan oleh universitas di negeri ini tetapi Indonesia masih saja babak belur.
Rumusnya pertama adalah bersahaja, kedua adalah total hemat, ketiga adalah keluarkan yang tidak bermanfaat, yang keempat adalah setiap kita mengeluarkan uang harus menolong orang lain atau manfaat. Kalau mau belanja niatkan jangan hanya mencari barang tetapi juga menolong orang.
Belilah barang di warung pengusaha kecil yang dapat menolong omzetnya. Hati-hati dengan menawar, pilihannya kalau itu merupakan hal yang adil. Jangan bangga kalau kita berhasil menawar. Nabi Muhammad SAW bahkan kalau beli barang dilebihkan uangnya dari harga barang yang sebenarnya. Tidak akan berkurang harta dengan menolong orang.
Jangan memilih barang-barang yang bagus semua pilihlah yang jeleknya sebagian. Kita itu untung jika membuat sebanyak mungkin orang lain untung. Jangan jadi bangga ketika kita sendiri untung orang lain tidak.
Jika kita jadi pengusaha, kita jadi kaya ketika karyawannya diperas tenaganya, gajinya hanya pas buat makan, sedang kita berfoya-foya, demi Allah kita akan rugi. Pengusaha Islam sejati tidak akan berfoya-foya, ia akan menikmati karyawannya sejahtera. Sehingga tidak timbul iri, yang ada adalah cinta.
Cinta membuat kinerja lebih bagus, perusahaan lebih sehat. Kalau kapitalis, pengusahanya bermewah-mewah ketika bawahannya menderita. Jadi timbul dendam dan iri setiap ada kesempatan akan marah seperti yang terjadi di Bandung kemarin. Tetapi kalau kita senang mensejahterakan mereka, anaknya kita sekolahkan. Dia merasa puas dan itulah namanya keuntungan.
Jadi mulai sekarang setiap membelanjakan uang harus menolong orang, membangun ekonomi umat. Jadi setiap keluar harus multi manfaat bukan hanya dapat barang. Dengan membeli barang di warung kecil mungkin uangnya untuk menyekolahkan anaknya, membeli sejadah, membeli mukena, Subhanallah.
Saudara-saudaraku Sekalian,
Jadi krisis seperti ini akan berdampak positif kalau kita bisa mengemasnya dengan baik. Nantinya ketika strategi rumah kita sudah bersahaja, kehidupan kita jadi efisien, anak-anak terbiasa hidup hemat, kita di rumah tidak mempunyai beban dengan banyaknya barang. Barang yang ada di rumah harus ada nilai tambahnya, bukan biaya tambah. Setiap blender harus ada nilai produktifnya misalnya untuk membuat jus kemudian dijual, pasti barokah. Bukannya membuat biaya tambah karena harus diurus, dirawat dan membutuhkan pengamanan, barang yang seperti ini tidak boleh ada di rumah kita. Rezeki kita pasti ada tinggal kita kreatif saja. Tidak perlu panik Allah Maha Kaya.
Sebagai amalan lainnya, dalam situasi sesulit apapun tetaplah menolong orang lain karena setiap kita menolong orang lain kita pasti ditolong oleh Allah. Jika makin pahit, makin getir harus makin produktif bagi orang lain.
Saat sukses maupun tidak tetap lakukan dimanapun kita berada. Ketika kita sedang berjalan kaki, kemudian ada mobil yang hendak parkir bisa kita beri aba-aba. Ketika kita menyetir mobil ada yang mau menyebrang, dahulukan saja, kita tidak tahu apa yang akan menimpa kita esok hari. Ketika kita sedang mengantri ada orang yang memotong, berhentilah sebentar, dengan mengalah berhenti barang lima menit tetapi membuat banyak orang bahagia.
Jadi insya Allah kalau hati kita sudah berbenah baik, krisis ini akan lebih membuat hidup kita lurus. Hidup ini tidak akan kemana-mana kecuali menunggu mati. Latihlah supaya kita sadar bahwa kita pasti mati tidak membawa apa-apa. Kita hanya mampir sebentar di dunia ini. Alhamdulilahirobil’alamin
Wallahu a'lam bishshawab
Dikutip dari Rubrik Manajemen Qalbu situs Daarut Tauhiid
Hati Yang Sehat
submitted by : Bayu Gautama
sumber : http://www.eramuslim.com/ article/articleview/1346/1/16/
Saudaraku, ajaklah segera hati ini meninggalkan dunia ini dan berpindah ke akhirat, tempatkan hati ini diakhirat sehingga seakan kita adalah penduduk negeri akhir itu. Anggaplah kehadiran kita di dunia fana ini hanya sebagai orang asing, yang singgah sesaat sebelum kembali meneruskan perjalanan ke alam akhirat. Rasulullah manusia agung pun pernah mengingatkan kita bahwa; ?Jadikanlah dirimu di dunia ini seakan-akan kamu orang asing atau orang yang sedang menyeberangi suatu jalan.?(HR. Bukhari)
Sadarilah saudaraku, semakin manusia mengejar dan menyibukkan diri dengan urusan dunia, itu pertanda semakin parah penyakit yang bersarang di hatinya. Ia memandang dunia seolah tempat hidup yang kekal dan abadi. Sungguh tidak demikian saudaraku, kita hanya singgah sesaat disini.
Saudaraku, jangan biarkan kita lupa atau melepaskan diri dari dzikrullah dan tilawah Al Qur?an atau bentuk ibadah lainnya. Sedetik saja kita meninggalkannya, tentu kita akan merasakan sakit yang teramat sangat melebihi rasa sakit saat kehilangan sebagian harta dan benda kesayangan kita.
Banyak orang-orang yang teramat rindunya dengan orang yang disayanginya, namun sudahkah kita merindukan kebersamaan kita dengan Allah, merindukan untuk mengabdi kepada Allah seperti rindu kepada orang yang disayang itu. Rindu seperti yang pernah digambarkan Yahya bin Mu?adz: ?Barangsiapa merasa senang dan damai berkhidmat kepada Allah, maka segala sesuatu pun akan senang berkhidmat kepadanya, dan barangsiapa tentram pandangannya (mata batinnya) karena Allah, maka tentram pula yang lainnya ketika melihat orang seperti ini.?
Yang seperti ini saudaraku, tentu karena ia menjadikan Allah sebagai satu-satunya tujuan dalam hidupnya.
Saudaraku, ukurlah kesehatan hati kita saat menghadapkan diri ini kepada Allah dalam sholat. Pernahkah merasakan kenikmatan dan kesejukan jiwa yang begitu suci dalam setiap sholat kita sehingga menghilangkan segala gundah akan kenikmatan dunia yang serba semu. Jika jawabannya adalah Ya, maka berbahagialah.
Selain itu saudaraku, sudah seharusnya kita sadar bahwa waktu berlalu begitu singkat dan cepat, mereka tidak akan pernah kembali jika sudah terlewati. Maka, hargailah setiap waktu yang kita miliki dan tidak menyia-nyiakannya sehingga kita tidak tergolong orang-orang yang merugi.
Janganlah terputus dan malas akan mengingat Allah, utamakan kualitas amalan daripada kuantitasnya, ikhlaslah dalam beramal, ikutilah petunjuk syariat Rasulullah dalam berbuat (mutaaba?ah) serta ihsan dalam beribadah. Disamping itu, renungkan juga segala bentuk karunia yang Allah berikan, kaji ulang setiap ketidakmampuan kita dalam memenuhi hak-hak Allah.
Saudaraku, jika kita sudah merasakan dan melakukan semua hal diatas yang menandakan sehatnya hati ini, bolehlah kita tersenyum. Namun jika tidak, sebaiknya perbanyaklah menangis karena sungguh hati ini seperti membatu, segeralah benahi hati ini agar kembali sehat detik ini juga, sebelum detik berikutnya Izrail menghampiri kita tanpa tersenyum. Wallahu a?lam bishshowaab.
HASAD MUSNAHKAN KEBAJIKAN
submitted by : Muhammad isa al jambuli
sumber : NULL
Diantara penyakit-penyakit hati manusia yang amat
berbahaya ialah hasad. Penyakit hasad atau dengki
bisa membinasakan ketaatan seseorang dalam beragama
dan membangkitkan segala kejahatan. Semua manusia
bisa menjadi mangsa penyakit ini, tidak peduli
apakah orang alim atau pun orang awam, apa lagi
orang jahil. Orang yang mengidap penyakit ini
bagaikan ditimpa bala yang dapat menyia-nyiakan usia
dalam hidupnya di dunia ini dan seterusnya ke
nerakalah dia di akhirat kelak.
Diriwayatkan, Rasulullah s.a.w bersabda, maksudnya:
Ada enam golongan manusia dimasukkan ke neraka
dengan enam sebab:
Orang-orang Arab karena asabiah mereka,
Raja-raja karena kezaliman mereka,
Para pemimpin karena ketakaburan mereka,
Para pedagang karena kecurangan mereka,
orang-orang awam karena kejahilan mereka
dan para ulama karena hasad atau dengki mereka.
Maksud "hasad" atau "dengki" itu ialah keinginan
yang jahat supaya sesuatu nikmat Allah hilang dari
seseorang yang beragama Islam. Lawannya hasad ialah
"nasehat" yang bermaksud, mengharapkan nikmat Allah
yang diperoleh oleh saudara seagama itu tetap
berlanjut, kecuali sekiraanya nikmat itu membawa
kecelakaan kepadanya atau kepada
hamba-hamba Allah yang lain.
Menurut ulamak, diantara tanda-tanda orang yang
berpenyakit hasad itu ialah:
Menunjuk-nunjukkan kasih di depan kita;Mengumpat di
belakang kita;Senang hati atau tidak bersimpati
apabila kita ditimpa kesusahan.
Akibat buruk dari penyakit hasad ialah:
(a) Membinasakan amal kebajikan dan ketaatan kepada
Allah Taala.
Rasulullah saw bersabda, maksudnya: Hasad itu
memakan kebajikan seperti api memakan kayu bakar.
(b) Mendatangkan keluh-kesah dan dukacita.
(c) Membawa kepada perbuatan maksiat.
(d) Mata hati menjadi buta, sehingga tidak dapat
memahami hukum-hukum Allah.
Sufyan al-Tsauri bersyair: "Jangan engkau menjadi
pendengki supaya engkau cepat menangkap kefahaman
(tidak buta mata hati)".
(e) Diharamkan atau ditahan dari kebajikan dan tidak
diberi taufik oleh Allah Taala.
Imam Khatimul-Asham bersyair: "Pendendam itu bukan
orang beragama, pencaci itu bukan orang beribadat,
dan pendengki itu bukan orang yang mendapat
pertolongan".
Penyakit hasad dapat dicegah dengan cara:
Senantiasa mengingat kewajiban atau tanggung jawab
muslim terhadap muslim dan seluruh muslimin,
mengikuti prinip-prinsip ajaran agama Islam.
Menjalin kasih sayang (mahabbah), tolong menolong,
bantu-membantu,nasehat-menasehati dan sebagainya
antara satu sama lain di kalangan kaum muslimin /
muslimat.
Senantiasa menghormati hak mukmin / mukminah yang
mendapat keistimewaan dan derajat yang tinggi dari
Allah Taala.
Senantiasa mengharapkan syafaat dari mukmin di
akhirat kelak.
Oleh sebab penyakit hasad itu begitu berbahaya, maka
amat wajarlah hati yang terlibat segera diberi
perawatan dan pencegahan.
Dengan mengingat dan mempraktekkan amalan-amalan
yang tersebut diatas, insya Allah, kita
terselamatkan dari penyakit yang amat buruk
akibatnya itu.
Wallahu a'lam.
Ghibah - Antara Terlarang dan Yang Diperbolehkan
Penulis: Ummu Ishaq Al Atsariyyah (Salafy, Muslimah Edisi 39/1422 H/2001)
Muammalah, 03 - November - 2003, 10:18:17
Allah Ta’ala berfirman : ”Dan janganlah sebagian kalian mengghibah sebagian yang lain. Sukakah salah seorang dari kalian memakan daging saudaranya yang telah mati? Maka tentunya kalian tidak menyukainya (merasa jijik). Dan bertakwalah kalian kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Al Hujurat : 12)
Al Hafidh Ibnu Katsir rahimahullah berkata dalam tafsirnya : “Dalam ayat ini ada larangan berbuat ghibah. Dan Penetap Syariat telah menafsirkan ghibah tersebut sebagaimana disebutkan dalam hadits yang diriwayatkan Abu Daud[1] nomor 4874.”
Lalu Ibnu Katsir membawakan sanadnya sampai kepada Abu Hurairah radhiallahu 'anhu, ia berkata : “Ditanyakan kepada Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam apa yang dimaksud dengan ghibah. Beliau Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam menjawab :
[ “Engkau menyebut tentang saudaramu dengan apa yang ia tidak sukai.” Lalu ditanyakan lagi : “Apa pendapatmu, wahai Rasulullah, jika memang perkara yang kukatakan itu ada pada saudaraku?” Beliau Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam menjawab : “Jika memang perkara yang kau katakan itu ada padanya maka sungguh engkau telah meng-ghibahnya dan jika perkara yang yang kau katakan itu tidak ada padanya maka sungguh engkau telah berdusta.” (Tafsir Ibnu Katsir. Jilid 4 halaman 272. Darul Faiha dan Darus Salam) ]
Ghibah atau yang diistilahkan ngerumpi oleh kalangan awam merupakan santapan lezat bagi para wanita secara khusus, walaupun pria juga ada yang melakukannya. Namun wanita yang mendominasi dalam hal ini. Di mana ada wanita berkumpul maka jarang sekali majelis itu selamat dari membicarakan aib orang lain, apakah itu tetangganya, temannya, iparnya, atau bahkan suami dan orang tuanya sendiri tidak luput dari pembicaraan. Dan setan datang menghiasi, sehingga mereka yang hadir merasa lezat dalam berghibah dan lupa akan ancaman Allah dan Rasul-Nya terhadap perbuatan keji ini.
Yang menyedihkan, perbuatan ghibah ini tidak hanya menimpa orang yang buta atau tidak peduli dengan agamanya, bahkan juga menimpa Muslimah yang telah mengerti tentang hukum-hukum agama ini. Di tempat pengajian mereka mendapat wejangan untuk berhati-hati dari membicarakan aib saudaranya sesama Muslim, mereka diberi peringatan dan ancaman untuk menjaga lisan. Namun ketika keluar dari tempat pengajian mereka tenggelam dalam perbuatan ini dengan sadar ataupun tanpa sadar. Dan memang setan begitu bersemangat untuk menyesatkan anak Adam, Wallahul Musta’an.
Ghibah ini haram hukumnya dan sangat dicerca. Ibnu Katsir rahimahullah berkata : [ Karena itulah Allah Tabaraka Wa Ta’ala menyerupakan perbuatan ghibah ini dengan memakan daging manusia yang telah mati, sebagaimana Dia berfirman : “Sukakah salah seorang dari kalian memakan daging saudaranya yang telah mati? Maka tentunya kalian tidak menyukainya (merasa jijik).”
Yakni sebagaimana kalian tidak suka/jijik untuk memakan bangkai manusia secara tabiat, maka hendaklah kalian juga tidak suka untuk melakukan ghibah secara syariat, karena hukuman perbuatan ghibah ini lebih berat. Allah menyebutkan permisalan seperti ini untuk menjauhkan manusia dari berbuat ghibah dan tahzir (peringatan) terhadap perbuatan ini. ]
Demikian Ibnu Katsir menerangkan. (Tafsir Ibnu Katsir 4/273)
Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam dalam khuthbah beliau di Mina ketika haji Wada’ mengingatkan akan tingginya kehormatan kaum Muslimin sehingga tidak layak untuk direndahkan dengan perbuatan ghibah. Beliau Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam bersabda : “Sesungguhnya darah kalian, harta kalian, dan kehormatan kalian haram atas kalian seperti keharaman/kehormatan hari kalian ini (yakni hari Nahar tanggal 10 Dzulhijjah, -pent.), pada bulan kalian ini (yakni bulan Dzulhijjah sebagai salah satu bulan haram, -pent.).” (HR. Bukhari nomor 1739 dan Muslim nomor 1679 dari shahabat Abi Bakrah radhiallahu 'anhu)
Beliau Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam juga bersabda : “Cukuplah kejelekan bagi seseorang bila ia merendahkan saudaranya yang Muslim. Setiap Muslim terhadap Muslim yang lain haram darahnya, kehormatannya, dan hartanya.” (HR. Muslim dalam Shahih-nya nomor 2564 dari shahabat Abu Hurairah radhiallahu 'anhu)
Ibnu Umar radhiallahu 'anhuma menceritakan bahwasanya Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam naik ke mimbar, lalu beliau berseru dengan suara yang lantang : “Wahai orang-orang yang mengaku beriman dengan lisannya namun iman itu belum masuk (belum sampai) ke dalam hatinya, janganlah kalian menyakiti kaum Muslimin, jangan kalian mengghibah mereka dan mencari-cari aurat mereka (kejelekan mereka), karena sesungguhnya siapa yang mencari-cari aurat saudaranya yang Muslim niscaya Allah akan mencari-cari auratnya dan siapa yang dicari-cari auratnya oleh Allah maka Allah akan membeberkan aurat tersebut walaupun di tengah rumahnya.” (HR. Tirmidzi dan Abu Daud. Dishahihkan Asy Syaikh Muqbil Al Wadi’i dalam kitabnya Ash Shahihul Musnad Mimma Laisa fish Shahihain 1/493. Darul Haramain)
Ibnu Umar radhiallahu 'anhuma suatu hari memandang ke Ka’bah lalu ia berkata : “Alangkah agungnya engkau dan alangkah besarnya kehormatanmu, namun orang Mukmin memiliki kehormatan yang lebih besar di sisi Allah dibanding dirimu.” (Tafsir Ibnu Katsir 4/274)
Ketika ‘Aisyah radhiallahu 'anha --istri yang paling Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam cintai-- menjelekkan madunya, maka beliau bersegera mengingkari perbuatan ‘Aisyah. Cinta beliau yang besar kepada sang istri tidak menghalangi beliau untuk menasehati dan menyalahkan perbuatannya yang menyimpang. Ketika itu ‘Aisyah berkata dengan rasa cemburunya : “Wahai Rasulullah cukup bagimu Shafiyah, dia begini dan begitu.” Berkata salah seorang perawi hadits ini : “Yang ‘Aisyah maksudkan adalah Shafiyah itu pendek.”
Maka mendengar hal itu Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam bersabda : “Sungguh engkau telah mengucapkan satu kata yang seandainya kata tersebut dicampurkan dengan air laut niscaya dapat mencemarinya.” (HR. Abu Daid dan Tirmidzi. Dishahihkan Asy Syaikh Albani dalam Shahih Sunan Abi Daud nomor 4080. Shahih Sunan Tirmidzi nomor 2034. Al Misykat nomor 4853, 4857. Ghayatul Maram nomor 427)
Perkataan ghibah ini memang ringan diucapkan lisan namun berat dalam timbangan kejelekan. Kenapa tidak? Sementara ada siksa yang secara khusus diancamkan bagi pelaku ghibah, seperti yang diceritakan oleh Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam : “Tatkala aku di-Mi’raj-kan (dibawa ke langit oleh Malaikat Jibril dalam peristiwa Isra’ Mi’raj, pent.), aku melewati suatu kaum (di neraka, pent.) yang mereka memiliki kuku-kuku dari tembaga. Dengan kuku-kuku tersebut mereka mencakari wajah dan dada mereka. Maka aku bertanya kepada Jibril : “Siapa mereka itu, wahai Jibril?” Jibril menjawab : “Mereka adalah orang-orang yang (ketika di dunia, pent.) memakan daging manusia (berbuat ghibah, pent.) dan melanggar kehormatan manusia.” (HR. Abu Daud. Dishahihkan Asy Syaikh Albani dalam Shahih Sunan Abi Daud nomor 4082. As Shahihah nomor 533).
Asy Syaikh Salim bin ‘Ied Al Hilali dalam kitabnya Bahjatun Nadhirin Syarah Riyadlush Shalihin berkata : [ Dan di antara cabang ayat ini (surat Al Hujurat ayat 12) adalah :
1) Ghibah adalah penyebab aib seseorang ketika ia tidak hadir. Allah menyamakan orang yang tidak hadir dengan mayat karena ia tidak mampu untuk membela dirinya dan menolak pembicaraan tentang aibnya. Demikian pula mayat, dia tidak tahu bila dagingnya dimakan sebagaimana orang hidup dia tidak tahu ketika dia sedang ghaib (tidak berada di tempat) tentang orang yang mengghibahnya.
2) Dalam ayat ini ada dalil tentang hujjah qiyasul aula dan keterangannya adalah :
Firman Allah Ta’ala : (Fa karihtumuuhu), di dalamnya ada dua sisi/makna :
Yang pertama : Kalian tidak suka/jijik untuk memakan bangkai. Maka hendaklah kalian tidak suka perbuatan ghibah.
Yang kedua : Kalian tidak suka manusia mengghibah kalian. Maka hendaklah kalian tidak suka untuk mengghibah manusia.
3) Sebagaimana tidak pantas bagi seorang hamba untuk menyebut seseorang yang telah meninggal kecuali kebaikannya, maka demikian pula sepantasnya ia tidak menyebut saudaranya dari kalangan Muslimin kecuali kebaikan ketika saudaranya itu tidak hadir di hadapannya.
(Lihat Bahjatun Nadhirin Syarah Riyadlush Shalihin halaman 6-7. Dar Ibnul Jauzi)
Al Imam An Nawawi rahimahullah berkata dalam Al Adzkar : “Adapun ghibah adalah engkau menyebut seseorang dengan apa yang ia tidak sukai, sama saja apakah (ghibah itu menyangkut) tubuhnya, agamanya, dunianya, jiwanya, fisiknya, akhlaknya, hartanya, anaknya, orang tuanya, istrinya, pembantunya, budaknya, sorbannya, pakaiannya, cara jalannya, gerakannya, senyumnya, muka masamnya, atau yang selainnya dari perkara yang menyangkut diri orang tersebut. Sama saja apakah engkau menyebut tentang orang tersebut dengan lafadhmu (ucapan bibirmu) atau tulisanmu, atau melalui tanda dan isyarat matamu, atau dengan tanganmu, atau kepalamu atau yang semisalnya.
Adapun ghibah yang menyangkut badan seseorang misalnya engkau mengatakan : Si Fulan buta, atau pincang, picak, gundul, pendek, tinggi, hitam, kuning, dan lain-lain.
Ghibah yang berkaitan dengan agama, misalnya engkau berkata : Si Fulan itu fasik, atau pencuri, pengkhianat, dhalim, meremehkan shalat, bermudah-mudah dalam perkara najis, tidak berbuat baik pada orang tuanya, tidak memberikan zakat pada tempatnya, tidak menjauhi ghibah, dan lain-lain.
Ghibah yang menyangkut urusan dunia seseorang, misalnya engkau berkata : Si Fulan kurang adabnya, meremehkan manusia, tidak memandang ada orang yang punya hak terhadapnya, banyak bicara, banyak makan dan tidur, tidur bukan pada waktunya, duduk tidak pada tempatnya, dan lain-lain.
Ghibah yang bersangkutan dengan orang tuanya, misalnya engkau mengatakan : Si Fulan itu ayahnya fasik. Atau mengatakan dengan nada merendahkan : Si Fulan anaknya tukang sepatu, anaknya penjual kain, anaknya tukang kayu, anaknya pandai besi, anaknya orang sombong, dan lain-lain.
Ghibah yang menyangkut akhlak, misalnya engkau berkata : Si Fulan jelek akhlaknya, sombong, ingin dilihat bila beramal (riya), sifatnya tergesa-gesa, lemah hatinya, dan lain-lain.
Ghibah yang berkaitan dengan pakaian seseorang, misalnya engkau berkata : Si Fulan lebar kerah bajunya, bajunya kepanjangan, dan lain-lain.
Yang jelas, batasan ghibah adalah engkau menyebut seseorang dengan apa yang ia tidak sukai, apakah dengan ucapan bibirmu atau yang lainnya. Dan setiap perkara yang dapat dipahami oleh orang lain bahwa itu menyangkut kekurangan seorang Muslim maka hal tersebut merupakan ghibah yang diharamkan.
Dan termasuk ghibah adalah meniru-nirukan tingkah laku seseorang untuk menunjukkan kekurangan yang ada padanya, misalnya menirukan cara berjalannya dengan membungkuk dan sebagainya.
Termasuk pula dalam ghibah ini apabila seorang penulis kitab menyebutkan tentang seseorang dalam kitabnya, dengan mengatakan : “Telah berkata Fulan begini dan begitu … .” Yang ia inginkan dengan tulisannya tersebut untuk menjatuhkan si Fulan dan menjelekkannya.
Namun apabila tujuan penulisan tersebut untuk menjelaskan kesalahan si Fulan agar orang lain tidak mengikutinya, atau untuk menjelaskan kelemahannya dalam bidang ilmu agar manusia tidak tertipu dengannya dan tidak menerima pendapatnya, maka hal ini bukanlah termasuk ghibah. Bahkan ini merupakan nasihat yang wajib dan diberi pahala bagi pelakunya.
Demikian pula bila seorang penulis atau yang lainnya berkata : “Telah berkata satu kaum atau satu kelompok begini dan begitu, dan perkataan ini salah dan menyimpang … .” Maka ini bukan termasuk ghibah karena tidak langsung menyebut individu atau kelompok tertentu.
Termasuk ghibah bila dikatakan kepada seseorang : “Bagaimana keadaannya si Fulan?” Lalu orang yang ditanya menjawab : “Alhamdulillah, keadaan kita tidak seperti dia, semoga Allah menjauhkan kita dari kejelekan dan kurangnya rasa malu … .” Atau ucapan-ucapan lain yang dipahami maksud dibaliknya untuk menjelekkan orang lain, walaupun si pengucap berlagak memanjatkan doa. ]
(Demikian kami ringkaskan dari nukilan Asy Syaikh Salim Al Hilali dalam kitabnya Bahjatun Nadhirin 3/25-27)
Yang Dikecualikan Dari Ghibah
Al Imam Nawawi rahimahullah dalam kitabnya Riyadlus Shalihin menyebutkan beberapa perkara yang dikecualikan dari ghibah :
Pertama : Mengadukan kedhaliman seseorang kepada penguasa atau hakim atau orang yang memiliki kemampuan untuk menyelesaikan kedhaliman tersebut.
Kedua : Meminta tolong kepada orang yang memiliki kemampuan untuk merubah kemungkaran dan mengembalikan pelaku maksiat kepada kebenaran.
Ketiga : Mengadukan seseorang dalam rangka meminta fatwa kepada mufti, seperti perbuatan Hindun ketika mengadukan suaminya Abu Sufyan kepada Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam, ia berkata : “Sesungguhnya Abu Sufyan adalah seorang yang kikir, ia tidak memberi nafkah yang mencukupi aku dan anakku, kecuali bila aku mengambilnya tanpa sepengetahuannya (apakah ini dibolehkan)?” Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam menjawab : “Ambillah sekedar dapat mencukupi dirimu dan anakmu dengan ma’ruf.” (HR. Bukhari dan Muslim nomor 1714 dari ‘Aisyah radhiallahu 'anha)
Keempat : Dalam rangka memperingatkan kaum Muslimin dari kejelekan dan menasehati mereka. Hal ini dari beberapa sisi, di antaranya :
a) Men-jarh (menyebutkan kejelekan) para perawi hadits, misalnya dikatakan : Si Fulan rawi yang dusta, dlaif.
b) Ketika diminta pendapat (diajak musyawarah) dalam memilih pasangan hidup, atau yang lainnya. Maka wajib bagi yang diajak musyawarah untuk tidak menyembunyikan kejelekan yang diketahuinya dengan meniatkan nasihat. Sebagaimana hal ini dicontohkan oleh Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam ketika dimintai pendapat oleh Fathimah bintu Qais radhiallahu 'anha dalam menentukan pilihan antara menerima pinangan Muawiyyah atau Abu Jahm radhiallahu 'anhuma. Maka Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam menasehatkan : “Adapun Muawiyyah, maka dia seorang yang fakir, tidak memiliki harta. Sedangkan Abu Jahm dia tidak pernah meletakkan tongkatnya dari pundaknya (yakni suka memukul wanita, pent.).” (HR. Bukhari dan Muslim nomor 1480)
c) Ketika melihat ada seseorang yang sering bertamu ke rumah ahlul bid’ah atau orang fasik dan dikhawatirkan orang itu akan terpengaruh/kena getahnya, maka wajib menasehatinya dengan menjelaskan keadaan ahlul bid’ah atau orang fasik itu.
Kelima : Menyebutkan kejelekan orang yang terang-terangan berbuat maksiat atau bid’ah seperti minum khamar, merampas harta orang lain, dan lain-lain.
Keenam : Menyebut seseorang dengan gelaran/perkara yang dia terkenal/masyhur dengannya, misalnya : Si buta, si pendek, si hitam, dan lain-lain.
(Dinukil dengan ringkas dari Riyadlus Shalihin halaman 450-451. Cetakan Maktabatul Ma’arif)
Apakah Ghibah Termasuk Dosa Besar?
Al Imam Ash Shan’ani rahimahullah dalam kitabnya Subulus Salam berkata : “Ulama berselisih apakah ghibah ini termasuk dosa kecil atau dosa besar. Al Imam Al Qurthubi menukil adanya ijma’ (kesepakatan ulama) bahwa ghibah termasuk dosa besar.”[2] (Lihat Subulus Salam 4/292. Cetakan Maktabah Al Irsyad. Shan’a). Dan pendapat bahwasanya ghibah adalah dosa besar inilah yang didukung oleh dalil sebagaimana diterangkan Al Imam Ash Shan’ani.
Termasuk dalil yang menunjukkan besarnya dosa ghibah adalah hadits yang diriwayatkan Abu Daud dalam Sunan-nya dari Said bin Zaid, ia berkata bahwasanya Nabi Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam bersabda :
“Sesungguhnya termasuk perbuatan riba yang paling puncak adalah melanggar kehormatan seorang Muslim tanpa haq.” (Hadits ini dishahihkan oleh Asy Syaikh Albani dalam Shahih Sunan Abi Daud nomor 4081. Ash Shahihah 1433 dan 1871 dan dishahihkan pula oleh Asy Syaikh Muqbil bin Hadi dalam kitabnya Ash Shahihul Musnad)
Haramnya Mendengarkan Ghibah
Al Imam An Nawawi dalam Al Adzkar : “Ketahuilah sebagaimana ghibah itu diharamkan bagi pelakunya, diharamkan pula bagi pendengar untuk mendengarkannya. Maka wajib bagi orang yang mendengar seseorang ingin berbuat ghibah untuk melarangnya apabila ia tidak mengkhawatirkan terjadinya mudlarat.
Apabila ia khawatir terjadi mudlarat maka hendaknya ia mengingkarinya dengan hatinya dan meninggalkan majelis itu bila memungkinkan.
Apabila ia mampu untuk mengingkari dengan lisannya atau memotong pembicaraan ghibah dengan membelokkan pada pembicaraan lain, maka wajib baginya untuk melakukannya. Bila tidak ia lakukan maka sungguh ia telah bermaksiat.
Apabila ia berkata dengan lisannya : ‘Diam’ (berhentilah dari ghibah) sementara hatinya menginginkan ghibah itu diteruskan, maka yang demikian itu adalah nifak dan pelakunya berdosa. Seharusnya ketika lisan melarang, hati pun turut mengingkari.
Dan kapan seseorang terpaksa berada di majelis yang diucapkan ghibah padanya sementara ia tidak mampu untuk mengingkarinya atau ia mengingkari namun ditolak dan ia tidak mendapatkan jalan untuk meninggalkan majelis tersebut, maka haram baginya untuk bersengaja mencurahkan pendengaran dan perhatian pada ghibah yang diucapkan. Namun hendaknya ia berdzikir kepada Allah dengan lisan dan hatinya, atau dengan hatinya saja, atau ia memikirkan perkara lain agar ia tersibukkan dari mendengarkan ghibah tersebut. Setelah itu apabila ia menemukan jalan untuk keluar dari majelis itu sementara mereka yang hadir terus tenggelam dalam ghibah, maka wajib baginya untuk meninggalkan tempat itu.” (Dinukil dari Bahjatun Nadhirin 3/29-30)
Allah Ta’ala berfirman : “Dan apabila mereka (Mukminin) mendengar ucapan laghwi, mereka berpaling darinya. (Al Qashshash : 55)
“Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungjawabannya.” (Al Isra’ : 36)
Cara Bertaubat Dari Ghibah
Ada dua pendapat ulama dalam masalah ini dan keduanya merupakan riwayat dari Al Imam Ahmad, yaitu :
1) Apakah cukup bertaubat dari ghibah dengan memintakan ampun kepada Allah untuk orang yang dighibah?
2) Ataukah harus memberitahukannya dan meminta kehalalannya?
Yang benar adalah tidak perlu memberitahukan ghibah itu kepada yang dighibahi, tapi cukup memintakan ampun untuknya dan menyebutkan kebaikan-kebaikannya di tempat dia mengghibah saudaranya tersebut. Pendapat inilah yang dipilih oleh Ibnu Taimiyah rahimahullah dan selainnya. (Nashihati lin Nisa’ halaman 31. Cetakan Darul Haramain)
Demikian kami tutup pembahasan ghibah ini dengan mengajak kepada diri kami dan pembaca untuk selalu bertakwa kepada Allah dengan menjauhi perbuatan ghibah dan menyibukkan diri dengan aib/kekurangan yang ada pada diri sendiri. Dan barangsiapa sibuk dengan aibnya sendiri dan tidak mengorek aib orang lain bahkan ia menjunjung kehormatan orang lain, maka sungguh ia telah mengenakan salah satu dari perhiasan akhlak yang mulia. Wallahu A’lam Bis Shawwab.
Daftar Pustaka
1. Bahjatun Nadhirin. Asy Syaikh Salim Al Hilali
2. Fathul Bari. Al Hafidh Ibnu Hajar
3. Nashihati lin Nisa’. Ummu Abdillah Al Wadi’iyyah bintu Asy Syaikh Muqbil Al Wadi’i
4. Riyadlus Shalihin. Al Imam An Nawawi
5. Subulus Salam. Al Imam Ash Shan’ani
------------------------------------------------------
[1] Ta’rif tentang ghibah ini disebutkan oleh Imam Muslim dalam hadits yang ia keluarkan pada kitab Shahih-nya (nomor 2589) dari shahabat Abu Hurairah radhiallahu 'anhu, bahwasanya Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam bersabda : “Tahukah kalian apakah ghibah itu?” Para shahabat menjawab : “Allah dan Rasul-Nya yang lebih tahu.” Lalu beliau menyebutkan sebagaimana tertera dalam riwayat Abu Daud yang dibawakan oleh Ibnu Katsir di atas.
[2] Namun ijma’ yang disebutkan ini tidaklah benar karena Al Hafidh Ibnu Hajar rahimahullah menyebutkan bahwa penulis kitab Ar Raudlah dan Al Imam Ar Rafi’i berpendapat bahwa ghibah termasuk dosa kecil. (Fathul Bari 10/480. Al Maktabah As Salafiyyah)
Dinukil dari [Majalah Salafy - Muslimah Edisi 39/1422 H/2001] Penulis Ummu Ishaq Al Atsariyyah, Judul asli Menjaga Kehormatan Muslimin Dengan Menjauhi Ghibah.
Dosa dan maksiat, cermin hilangnya kewibawaan umat Islam
Kategori : Tazkiyatun Nufus
Diakses : 1450
________________________________________
Ust. Abu Hamzah (murid syaikh Muqbil bin Hadi Al Wad’I Yaman)
Tidak diragukan lagi bahwa kehinaan dan malapetaka yang ditimpakan oleh Allah subhanahu wa ta’ala itu disebabkan karena banyak manusia lalai, merasa tidak bersalah jika melaksanakan dosa dan kemaksiatan. Mereka pun pura-pura tidak tahu bahwa yang demikian itu akan menyebabkan turunnya ancaman dari Allah subhanahu wa ta’ala. Allah ta’ala berfirman : “Telah tampak kerusakan di darat dan di laut karena perbuatan tangan manusia, agar Allah merasakan kepada mereka sebagian dari akibat perbuatan mereka, agar mereka kembali kepada jalan yang benar.” (Ar-Rum : 41)
Kemuliaan kaum musliminpun terpuruk dikarenakan penganutnya acuh tak acuh terhadap agamanya, yang halal menjadi haram dan sebaliknya, yang haram menjadi halal. Akibat dari semua itu dosa dan kemaksiatan menjadi sarapan pagi, siang dan malam harinya …… Wallahu Musta’an.
Umar Ibnul Khaththab berkata, “Sesungguhnya kita adalah kaum yang dimuliakan oleh Allah ta’ala dengan Islam, walau bagaimanapun kita pasti menginginkan kemuliaan tersebut, tapi jika tanpa Islam, maka Allah akan menghinakan kita. “ (dishahihkan oleh Al-Hakim dan disepakati oleh Imam Adz-Dzahabi)
Dari perkataan seorang khalifah ini, jelaslah kehancuran dan kehinaan kaum muslimin akan didapat jika lalai dan meninggalkan agamanya. Maka hendaklah seluruh kaum muslimin sadar akan hal ini dan mengetahui akibat-akibat yang ditimbulkan dari dosa dan kemaksiatannya serta hal-hal yang akan menyebabkan ia berbuat dosa.
Diantara hal-hal yang akan menyebabkan berbuat dosa adalah sebagai berikut :
Pertama.
Tidak sabar dalam menghadapi ujian yang diberikan oleh Allah ta’ala baik itu berupa kebaikan atau keburukan. Allah ta’ala berfirman : “Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan yang sebenar-benarnya.“ (Al-Anbiya : 35). Firman Allah ta’ala : ”Alif laam miim, …apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan saja, mengatakan kami beriman sedang mereka tidak diuji lagi ? Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta.” (Al-Ankabut : 1-3) dan “Dan Kami coba mereka dengan nikmat yang baik-baik dan bencana yang buruk-buruk agar mereka kembali kepada kebenaran.” (Al-A’raf : 168)
Al-‘Allamah Ibnul Qayyim mengatakan, “Ujian merupakan suatu keharusan yang menimpa manusia, dan tidak ada satu orang pun yang dapat mengelak darinya. Oleh karenanya Allah ta’ala menyebutkan dalam al-Qur’an tentang keharusan-Nya menguji manusia baik itu merupakan kesenangan ataupun kesusahan untuk menuntut adanya kesabaran dan rasa bersyukur…” (Madarijus Salikin juz 2/283). Keterangan di atas merupakan gambaran yang jelas, apabila seseorang tidak memiliki kesabaran dalam menghadapi ujian dan cobaan maka akan menjerumuskan dia ke dalam dosa dan kemaksiatan.
Kedua.
Lemahnya keimanan dan keyakianan kepada Allah ta’ala dan tidak merasa takut kepada-Nya. Sesungguhnya lemahnya iman seorang hamba kepada Sang Penciptanya, Pemberi rizkinya, dan Pengatur segala urusannya adalah perkara besar dan sangat berbahaya. Hilangnya rasa takut kepada Allah, dan tidak memiliki sifat muraqabah (merasa diperhatikan Allah) sesungguhnya akan menyebabkan manusia menganggap enteng dengan janji Allah ta’ala dan ancaman-Nya. Janji Allah ta’ala adalah dengan memberikan pertolongan, kemuliaan dan kepemimpinan. Adapun di akhirat, maka janji-Nya adalah surga yang luasnya seluas langit dan bumi, Allah ta’ala akan berikan kepada orang-orang yang bertakwa. Adapun ancaman-Nya di dunia adalah dengan menurunkan kesusahan, kerendahan dan kehinaan, juga tidak adanya ketenangan, maka ancaman-Nya di akhirat adalah dengan menimpakan adzab yang pedih dan menariknya ke dalam neraka yang membara serta merupakan sejelek-jeleknya tempat kembali.
Dari Anas Ibnu Malik berkata, “Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam, menyampaikan sesuatu di hadapan para sahabatnya, beliau berkata : ‘Telah diperlihatkan kepadaku surga dan neraka, maka aku belum pernah melihat kebaikan dan keburukan seperti pada hari ini, jika kalian mengetahui apa yang aku ketahui niscaya kalian akan sedikit tertawa dan banyak menangis’, Anas berkata, “Tidak pernah datang kepada sahabat Rasulullah suatu hari yang lebih berat kecuali hari itu”. Berkata lagi Anas, “Para sahabat Rasulullah menundukkan kepala-kepala mereka dan terdengar suara tangisan mereka.” (Bukhari & Muslim).
Umar Ibnul Khaththab radliyallahu anhu berkata, “Seandainya ada seruan yang datangnya dari langit, ‘Wahai sekalian manusia sesungguhnya kalian akan masuk surga kecuali satu orang …’. Maka aku akan takut kalau satu orang itu ternyata adalah aku.” Ibnu Umar radliyallahu anhu berkata, “Kepala Umar di atas pahaku ketika ia sakit, yang sakit itu menyebabkan kematiaannya, lalu ia berkata kepadaku, ‘Letakkan kepalaku !’, maka aku meletakkannya di atas tanah, kemudian dia berkata lagi, ‘Kehancuran yang akan menimpaku dan ibuku manakala Rabku tidak mengasihiku’.” (Syarhus Sunnah, Al-Baihaqi)
Begitulah keadaan Rasulullah dan para sahabatnya, kalau kaum muslimin tidak lagi memiliki rasa khasyyah (takut kepada Allah ta’ala) dapat dibayangkan dan dibuktikan apa yang akan terjadi… Wallahu Musta’an.
Ketiga:
Kebodohan, tidak mengenal Allah ta’ala. Allah dan rasul-Nya shalallahu ‘alaihi wa sallam telah mencela kebodohan dan ahlinya (orang bodoh), dengan menerangkan dampak kejelekan dan akibatnya. Firman Allah ta’ala :
“Jadilah engkau seorang yang pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang ma’ruf, serta berpalinglah dari orang-orang yang bodoh.” (Al-A’raf : 199). Dan Allah berfirman tentang sifat-sifat Ibadurrahman (hamba Ar-Rahman) : “Dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata yang mengandung keselamatan.” (Al-Furqan : 63). Dari Abdillah Ibnu Amr Ibnul ‘Ash, Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Sesungguhnya Allah ta’ala tidak akan mencabut ilmu pada hambanya dengan sekaligus, akan tetapi mencabut ilmu dengan cara dicabutnya para ulama, sehingga apabila sudah tidak ada lagi yang tersisa seorang alim pun, maka manusia akan memilih para pemimpin-pemimpin yang bodoh, maka apabila mereka ditanya, mereka akan manjawab tanpa ilmu, mereka itu sesat lagi menyesatkan.” (Bukhari & Muslim).
Demikianlah akibat dari kebodohan yang sekarang justru menjadi berkembang biak dan merajalela di kalangan kaum muslimin… Hendaknya kaum muslimin seluruhnya bertakwa kepada Allah kapan dan dimanapun ia berada. Sesungguhnya tidak ada yang dapat menyelamatkan umat ini dari kesesatan kecuali ilmu, karena Allah ta’ala telah memuji ilmu dan ahlinya. Allah ta’ala berfirman : “Sesungguhnya orang-orang yang takut di antara hamba-hamba-Nya hanyalah para ulama (orang yang berilmu).” (Fathir : 28).
“Allah menyatakan bahwasanya tiada ilah malainkan Dia, Yang menegakkan keadilan, para malaikat dan ahli ilmu (juga mengatakan demikian). Tiada ilah kecuali Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.“ (Ali Imran : 18).
Kempat.
Cinta dunia dan condong kepada syahwat. Allah ta’ala berfirman : “Dijadikan indah pada pandangan manusia kepada apa-apa yang diingini yaitu, wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik. “ (Ali Imran : 14).
Dalam ayat ini Allah ta’ala telah menyebutkan jumlah syahwat yang digandrungi dan dicintai oleh manusia, kemudian Dia menerangkan bahwa yang demikian itu hanyalah perhiasan dunia yang akan hilang dengan segera, dan di sisi Allah-lah pahala dunia, hendaklah mengingat kembali umurnya yang telah lewat, apakah digunakan ketaatan kepada Allah, ataukah dalam kemaksiatan. Ingatlah apa yang telah Rasulullah peringatkan : “Maka demi Allah ! Bukanlah kemiskinan yang aku takutkan atas kalian tapi yang kutakutkan adalah akan dibentangkannya dunia, seperti dibentangkannya atas orang-orang sebelum kalian, maka kalian akan berlomba-lomba padanya (dunia) seperti halnya mereka, dan dunia itupun akan mengahancurkan kalian, sepertinya telah menghancurkan orang-orang sebelum kalian.” (Bukhari & Muslim).
Kelima.
Lalai, tidak pernah menghiraukan. Kebanyakan manusia terbang dalam angan-angan yang tak karuan, sehingga keluar dari jalan yang lurus dan meninggalkannya, lalu mengira kan dibiarkan begitu saja, lalai atas firman Allah : “Dan Aku memberi tangguhan kepada mereka, sesungguhnya rencana-Ku amat teguh.” (Al-Qalam : 45). “Biarkanlah mereka di dunia ini makan dan bersenang-senang dan dilalaikan dengan angan-angan kosong, maka kelak mereka akan mengetahui akibat dari perbuatan mereka.” (Al-Hijr : 3). Sudah semestinya kaum muslimin melihat dan membuka matanya lebar-lebar atas apa yang terjadi pada warga dan negara yang kita cintai ini.
Adapun dampak yang ditimbulkan dari dosa dan maksiat adalah sebagai berikut :
1. Sesungguhnya dengan dosa dan maksiat akan melemahkan hati dari keinginannya. Sedikit demi sedikit keinginan untuk melakukan kemaksiatan akan menguat, dan keinginan untuk bertobat akan melemah hingga akhirnya akan hilang keinginan hati untuk bertaubat secara keseluruhan.
2. Seseorang akan terus melakukan perbuatan dosa dan maksiat, sehingga ia akan menganggap remeh dosa tersebut. Kalau sudah demikian maka akan datang kehancuran, sebab dosa yang dianggap remeh adalah besar di sisi Allah ta’ala. Ibnu Mas’ud radliyallahu anhu berkata, “Sesungguhnya seorang mukmin tatkala melihat dosanya seakan-akan ia berada di pinggir gunung yang ia takut gunung itu akan menimpa dirinya. Dan sesungguhnya seorang yang fajir tatkala melihat dosanya, seperti seekor lalat yang hinggap di hidungnya lalu membiarkannya terbang.” (HR. Bukhari)
3. Sesungguhnya dosa dan maksiat akan menghilangkan rasa malu, yang merupakan tonggak kehidupan hati, pokok dari segala kebaikan, apabila hilang rasa malu maka lenyaplah kebaikan. Nabi shalallahu alaihi wa sallam bersabda :
“Malu adalah kebaikan seluruhnya.” (HR. Bukhari Muslim)
4. Disebabkan dosa dan maksiat, Allah ta’ala akan melupakan hamba-Nya dan meninggalkannya, maka terjadilah kehancuran yang tidak diharapkan.
Masih banyak dampak dan akibat yang ditimbulkan dari dosa dan kemaksiatan yang harus dijauhi oleh setiap kaum muslimin…. Dengan kembali kepada agamanya, kembali kepada al-Kitab dan as-Sunnah, berpegang teguh kepada keduanya untuk mengembalikan ‘izzatul Islam wal muslimin (Kemuliaan Islam dan Muslimin).
Wallahu A’lam bishawab
[Kontributor : Atho ibn sanady, 01 Desember 2001 ]
Dahsyatnya Sedekah 2
KH Abdullah Gymnastiar
Sedekah adalah penolak bala, penyubur pahala, dan melipatgandakan rezeki; sebutir benih menumbuhkan tujuh bulir, yang pada tiap-tiap bulir itu terjurai seratus biji. Suatu hari datanglah dua orang akhwat yang mengaku baru kembali dari kampung halamannya di kawasan Jawa Tengah. Keduanya kemudian bercerita tentang sebuah kejadian luar biasa yang dialaminya ketika pulang kampung dengan naik bus antarkota, beberapa hari sebelumnya. Di tengah perjalanan, bus yang ditumpanginya terkena musibah, bertabrakan dengan dahsyatnya. Seluruh penumpang mengalami luka berat. Bahkan para penumpang yang duduk di dekatnya meninggal seketika dengan bersimbah darah. Dari seluruh penumpang tersebut hanya dua akhwat itulah yang selamat dengan tidak terluka sedikit pun.
Mengapa mereka ditakdirkan Allah selamat? Menurut pengakuan keduanya, ada dua amalan yang dikerjakan keduanya waktu itu, yakni ketika hendak berangkat mereka sempat bersedekah terlebih dahulu dan selama dalam perjalanan selalu melafadzkan zikir. Sahabat, tidaklah kita ragukan lagi, inilah sebagian dari keutamaan bersedekah. Allah pasti menurunkan balasannya pada saat dibutuhkan dengan jalan yang tidak pernah disangka-sangka. ALLAH adalah Zat yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang kepada semua hamba-Nya. Bahkan kepada kita yang hampir setiap desah napas selalu membangkang perintah-Nya, Dia tetap saja mengucurkan rahmat-Nya yang tiada terkira. Segala amalan yang kita perbuat, amal baik ataupun amal buruk, pasti akan kembali kepada kita. Demikian juga jika kita berbicara soal harta yang kini ada di genggaman kita.
Demi Allah, semuanya datang dari Allah yang Mahakaya. Dititipkan-Nya kepada kita tiada lain supaya kita bisa beramal dan bersedekah dengan sepenuh keikhlasan. Kemudian kita akan mendapatkan balasan pahala dari pada-Nya, baik ketika di dunia ini maupun saat menghadap-Nya kelak. Dari pengalaman kongkret kedua akhwat di atas, dengan penuh keyakinan kita dapat menangkap bukti yang dijanjikan Allah SWT dan Rasul-Nya, bahwa sekecil apapun harta yang disedekahkan dengan ikhlas, niscaya akan tampak betapa dahsyat balasan dari-Nya. Boleh jadi, inilah yang menyebabkan Rasulullah SAW memerintahkan para sahabatnya yang tengah bersiap pergi menuju medan perang Tabuk, agar mengeluarkan sedekah. Saat itu Allah menurunkan ayat tentang sedekah kepada Rasulullah SAW, Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir yang pada tiap-tiap bulir itu terjurai seratus biji.
Allah melipatgandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Mahaluas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui (QS. Al-Baqarah: 261). Seruan Rasul itu disambut seketika oleh Abdurrahman bin Auf dengan menyerahkan empat ribu dirham seraya berkata, "Ya Rasulullah, harta milikku hanya delapan ribu dirham. Empat ribu dirham aku tahan untuk diri dan keluargaku, sedangkan empat ribu dirham lagi aku serahkan di jalan Allah". "Allah memberkahi apa yang engkau tahan dan apa yang engkau berikan," jawab Rasulullah SAW. Kemudian datang sahabat lainnya, Usman bin Affan. "Ya Rasul, saya akan melengkapi peralatan dan pakaian bagi mereka yang belum mempunyainya," ujarnya.
Adapun Ali bin Abi Thalib ketika itu hanya memiliki empat dirham. Ia pun segera menyedekahkan satu dirham waktu malam, satu dirham saat siang hari, satu dirham secara terang-terangan, dan satu dirham lagi secara diam-diam. Kenapa para sahabat begitu antusias dan spontan menyambut seruan untuk bersedekah? Tiada lain karena mereka yakin akan balasan yang berlipat ganda sebagaimana telah dijanjikan Allah dan Rasul-Nya. Sedekah adalah penolak bala, penyubur pahala, dan pelipat ganda rezeki; sebutir benih menumbuhkan tujuh bulir, yang pada tiap-tiap bulir itu terjurai seratus biji. Artinya, Allah yang Mahakaya akan membalasnya hingga tujuh ratus kali lipat. Masya Allah!
Sahabat, betapa dahsyatnya sedekah yang dikeluarkan di jalan Allah yang disertai dengan hati ikhlas, sampai-sampai Rasul sendiri membuat perbandingan. Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Anas bin Malik, Rasulullah SAW bersabda, "Allah SWT menciptakan bumi, maka bumi pun bergetar. Lalu Allah pun menciptakan gunung dengan kekuatan yang telah diberikan kepadanya, ternyata bumi pun terdiam. Para malaikat terheran-heran akan penciptaan gunung tersebut. Kemudian mereka bertanya? 'Ya Rabbi, adakah sesuatu dalam penciptaan-Mu yang lebih kuat dari pada gunung?'.
Allah menjawab, 'Ada, yaitu besi'. Para malaikat pun kembali bertanya, 'Ya Rabbi adakah sesuatu dalam penciptaan-Mu yang lebih kuat dari pada besi?'. Allah menjawab, 'Ada, yaitu api'. Bertanya kembali para malaikat, 'Ya Rabbi adakah sesuatu dalam penciptaan-Mu yang lebih kuat dari pada api?'. Allah menjawab, 'Ada, yaitu air'. 'Ya Rabbi adakah sesuatu dalam penciptaan-Mu yang lebih kuat dari air?,' tanya para malaikat. Allah pun menjawab, 'Ada, yaitu angin'. Akhirnya para malaikat bertanya lagi, 'Ya Allah adakah sesuatu dalam penciptaan-Mu yang lebih dari semua itu?'. Allah yang Mahagagah menjawab, 'Ada, yaitu amal anak Adam yang mengeluarkan sedekah dengan tangan kanannya sementara tangan kirinya tidak mengetahuinya'." Wallahu a'lam bish-shawab. (RioL)
Dahsyatnya Sedekah 1
Dimanakah letak kedahsyatan hamba-hamba Allah yang bersedekah? Dikisahkan dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Turmudzi dan Ahmad, sebagai berikut :
Tatkala Allah SWT menciptakan bumi, maka bumi pun bergetar. Lalu Allah pun menciptkana gunung dengan kekuatan yang telah diberikan kepadanya, ternyata bumi pun terdiam. Para malaikat terheran-heran akan penciptaan gunung tersebut. Kemudian mereka bertanya? "Ya Rabbi, adakah sesuatu dalam penciptaan-Mu yang lebih kuat dari pada gunung?"
Allah menjawab, "Ada, yaitu besi" (Kita mafhum bahwa gunung batu pun bisa menjadi rata ketika dibor dan diluluhlantakkan oleh buldozer atau sejenisnya yang terbuat dari besi).
Para malaikat pun kembali bertanya, "Ya Rabbi adakah sesuatu dalam penciptaan-Mu yang lebih kuat dari pada besi?"
Allah yang Mahasuci menjawab, "Ada, yaitu api" (Besi, bahkan baja bisa menjadi cair, lumer, dan mendidih setelah dibakar bara api).
Bertanya kembali para malaikat, "Ya Rabbi adakah sesuatu dalam penciptaan-Mu yang lebih kuat dari pada api?"
Allah yang Mahaagung menjawab, "Ada, yaitu air" (Api membara sedahsyat apapun, niscaya akan padam jika disiram oleh air).
"Ya Rabbi adakah sesuatu dalam penciptaan-Mu yang lebih kuat dari air?" Kembali bertanya para malaikat.
Allah yang Mahatinggi dan Mahasempurna menjawab, "Ada, yaitu angin" (Air di samudera luas akan serta merta terangkat, bergulung-gulung, dan menjelma menjadi gelombang raksasa yang dahsyat, tersimbah dan menghempas karang, atau mengombang-ambingkan kapal dan perahu yang tengah berlayar, tiada lain karena dahsyatnya kekuatan angin. Angin ternyata memiliki kekuatan yang teramat dahsyat).
Akhirnya para malaikat pun bertanya lagi, "Ya Allah adakah sesuatu dalam penciptaan-Mu yang lebih dari semua itu?"
Allah yang Mahagagah dan Mahadahsyat kehebatan-Nya menjawab, "Ada, yaitu amal anak Adam yang mengeluarkan sedekah dengan tangan kanannya sementara tangan kirinya tidak mengetahuinya."
Artinya, orang yang paling hebat, paling kuat, dan paling dahsyat adalah orang yang bersedekah tetapi tetap mampu menguasai dirinya, sehingga sedekah yang dilakukannya bersih, tulus, dan ikhlas tanpa ada unsur pamer ataupun keinginan untuk diketahui orang lain.
Inilah gambaran yang Allah berikan kepada kita bagaimana seorang hamba yang ternyata mempunyai kekuatan dahsyat adalah hamba yang bersedekah, tetapi tetap dalam kondisi ikhlas. Karena naluri dasar kita sebenarnya selalu rindu akan pujian, penghormatan, penghargaan, ucapan terima kasih, dan sebagainya. Kita pun selalu tergelitik untuk memamerkan segala apa yang ada pada diri kita ataupun segala apa yang bisa kita lakukan. Apalagi kalau yang ada pada diri kita atau yang tengah kita lakukan itu berupa kebaikan.
Karenanya, tidak usah heran, seorang hamba yang bersedekah dengan ikhlas adalah orang-orang yang mempunyai kekuatan dahsyat. Sungguh ia tidak akan kalah oleh aneka macam selera rendah, yaitu rindu pujian dan penghargaan.
Apalagi kedahsyatan seorang hamba yang bersedekah dengan ikhlas? Pada suatu hari datang kepada seorang ulama dua orang akhwat yang mengaku baru kembali dari kampung halamannya di kawasan Jawa Tengah. Keduanya kemudian bercerita mengenai sebuah kejadian luar biasa yang dialaminya ketika pulang kampung dengan naik bis antar kota beberapa hari sebelumnya.
Di tengah perjalanan bis yang ditumpanginya terkena musibah, bertabrakan dengan dahsyatnya. Seluruh penumpang mengalami luka berat. Bahkan para penumpang yang duduk di kurs-kursi di dekatnya meninggal seketika dengan bersimbah darah. Dari seluruh penumpang tersebut hanya dua orang yang selamat, bahkan tidak terluka sedikit pun. Mereka itu, ya kedua akhwat itulah. Keduanya mengisahkan kejadian tersebut dengan menangis tersedu-sedu penuh syukur.
Mengapa mereka ditakdirkan Allah selamat tidak kurang suatu apa? Menurut pengakuan keduanya, ada dua amalan yang dikerjakan keduanya ketika itu, yakni ketika hendak berangkat mereka sempat bersedekah terlebih dahulu dan selama dalam perjalanan selalu melafazkan zikir.
Sahabat, tidaklah kita ragukan lagi, bahwa inilah sebagian dari fadhilah (keutamaan) bersedekah. Allah pasti menurunkan balasannya disaat-saat sangat dibutuhkan dengan jalan yang tidak pernah disangka-sangka.
Allah Azza wa Jalla adalah Zat yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang kepada semua hamba-Nya. Bahkan kepada kita yang pada hampir setiap desah nafas selalu membangkang terhadap perintah-Nya pada hampir setiap gerak-gerik kita tercermin amalan yang dilarang-Nya, toh Dia tetap saja mengucurkan rahmat-Nya yang tiada terkira.
Segala amalan yang kita perbuat, amal baik ataupun amal buruk, semuanya akan terpulang kepada kita. Demikian juga jika kita berbicara soal harta yang kini ada dalam genggaman kita dan kerapkali membuat kita lalai dan alpa. Demi Allah, semua ini datangnya dari Allah yang Maha Pemberi Rizki dan Mahakaya.
Dititipkan-Nya kepada kita tiada lain supaya kita bisa beramal dan bersedekah dengan sepenuh ke-ikhlas-an semata-mata karena Allah. Kemudian pastilah kita akan mendapatkan balasan pahala dari pada-Nya, baik ketika di dunia ini maupun saat menghadap-Nya kelak.
Dari pengalaman kongkrit kedua akhwat ataupun kutipan hadits seperti diuraikan di atas, dengan penuh kayakinan kita dapat menangkap bukti yang dijanjikan Allah SWT dan Rasul-Nya, bahwa sekecil apapun harta yang disedekahkan dengan ikhlas, niscaya akan tampak betapa dahsyat balasan dari-Nya.
Inilah barangkali kenapa Rasulullah menyerukan kepada para sahabatnya yang tengah bersiap pergi menuju medan perang Tabuk, agar mengeluarkan infaq dan sedekah. Apalagi pada saat itu Allah menurunkan ayat tentang sedekah kepada Rasulullah SAW.
"Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah seupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir; seratus biji Allah melipatgandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Mahaluas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui," demikian firman-Nya (QS. Al-Baqarah [2] : 261).
Seruan Rasulullah itu disambut seketika oleh Abdurrahman bin Auf dengan menyerahkan empat ribu dirham seraya berkata, "Ya, Rasulullah. Harta milikku hanya delapan ribu dirham. Empat ribu dirham aku tahan untuk diri dan keluargaku, sedangkan empat ribu dirham lagi aku serahkan di jalan Allah."
"Allah memberkahi apa yang engkau tahan dan apa yang engkau berikan," jawab Rasulullah.
Kemudian datang sahabat lainnya, Usman bin Affan. "Ya, Rasulullah. Saya akan melengkapi peralatan dan pakaian bagi mereka yang belum mempunyainya," ujarnya.
Adapun Ali bin Abi Thalib ketika itu hanya memiliki empat dirham. Ia pun segera menyedekahkan satu dirham waktu malam, satu dirham saat siang hari, satu dirham secara terang-terangan, dan satu dirham lagi secara diam-diam.
Mengapa para sahabat begitu antusias dan spontan menyambut seruan Rasulullah tersebut? Ini tiada lain karena yakin akan balasan yang berlipat ganda sebagaimana telah dijanjikan Allah dan Rasul-Nya. Medan perang adalah medan pertaruhan antara hidup dan mati.
Kendati begitu para sahabat tidak ada yang mendambakan mati syahid di medan perang, karena mereka yakin apapun yang terjadi pasti akan sangat menguntungkan mereka. Sekiranya gugur di tangan musuh, surga Jannatu na’im telah siap menanti para hamba Allah yang selalu siap berjihad fii sabilillaah. Sedangkan andaikata selamat dapat kembali kepada keluarga pun, pastilah dengan membawa kemenangan bagi Islam, agama yang haq!
Lalu, apa kaitannya dengan memenuhi seruan untuk bersedekah? Sedekah adalah penolak bala, penyubur pahala dan pelipat ganda rizki; sebutir benih menumbuhkan tujuh bulir, yang pada tiap-tiap bulir itu terjurai seratus biji. Artinya, Allah yang Mahakaya akan membalasnya hingga tujuh ratus kali lipat. Masya Allah!
Sahabat, betapa dahsyatnya sedekah yang dikeluarkan di jalan Allah yang disertai dengan hati ikhlas, sampai-sampai Allah sendiri membuat perbandingan, sebagaimana tersurat dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Anas bin Malik, seperti yang dikemukakan di awal tulisan ini.
Wallahu a'lam bishshawab
Dikutip dari Rubrik Manajemen Qalbu situs Daarut Tauhiid
Cara Menasehati Saudara Kita
syarh_sunnah menulis "Tak ada gading yang tak retak, tak ada manusia yang sempurna, selalu ada kelemahan dan kekurangannya. Setiap manusia mesti mempunyai kesalahan dan sebaik-baik mereka adalah yang bertaubat kepada Allah, menyadari akan kesalahannya, lalu menyesal dan bertekad untuk tidak mengulanginya lagi.
Oleh karena itu nasehat menasehati menuju kebenaran harus digalakkan, bagi yang dinasehati seharusnya ia berterima kasih kepada orang yang telah menunjukkan kekurangan dan kesalahannya, hanya saja hal ini jarang terjadi, pada umumnya manusia tidak suka disalahkan apalagi kalau teguran itu disampaikan kepadanya dengan cara yang tidak baik.
Maka seorang pemberi nasehat haruslah mengetahui metode yang baik agar nasehatnya dapat diterima oleh orang lain. Diantara metode nasehat yang baik adalah memberi nasehat kepada orang lain secara rahasia tanpa diketahui oleh orang lain. Dalam kesempatan ini akan kami nukilkan penjelasan para ulama tentang adab yang satu ini.
Nasehat para ulama tentang menasehati secara rahasia
Imam Ibnu Hibban (wafat tahun 534 H) berkata, Nasehat itu merupakan kewajiban manusia semuanya, sebagaimana telah kami sebutkan sebelum ini, tetapi dalam teknik penyampaiannya haruslah dengan cara rahasia, tidak boleh tidak, karena barangsiapa yang menasehati saudaranya dihadapan orang lain maka berarti dia telah mencelanya, dan barangsiapa yang menasehatinya secara rahasia maka dia telah memperbaikinya. Sesungguhnya menyampaikan dengan penuh perhatian kepada saudaranya sesama muslim adalah kritik yang membangun, lebih besar kemungkinannya untuk diterima dibandingkan menyampaikan dengan maksud mencelanya.
Kemudian Imam Ibnu Hibban menyebutkan dengan sanadnya sampai kepada Sufyan, ia berkata, Saya berkata kepada Mis''ar, ''Apakah engkau suka apabila ada orang lain memberitahumu tentang kekurangan-kekuranganmu?'' Maka ia berkata, ''Apabila yang datang adalah orang yang memberitahukan kekurangan-kekuranganku dengan cara menjelek-jelekkanku maka saya tidak senang, tapi apabila yang datang kepadaku adalah seorang pemberi nasehat maka saya senang''.
Kemudian Imam Ibnu Hibban berkata bahwa Muhammad bin Said al Qazzaz telah memberitahukan kepada kami, Muhammad bin Mansur telah menceritakan kepada kami, Ali ibnul Madini telah menceritakan kepadaku, dari Sufyan ia berkata, Talhah datang menemui Abdul Jabbar bin Wail, dan di situ banyak terdapat orang, maka ia berbicara dengan Abdul Jabbar menyampaikan sesuatu dengan rahasia, kemudian setelah itu beliau pergi. Maka Abdul Jabbar bin Wail berkata, ''Apakah kalian tahu apa yang ia katakan tadi kepadaku?'' Ia berkata, ''Saya melihatmu ketika engkau sendang shalat kemarin sempat melirik ke arah lain''.
Imam Ibnu Hibban berkata, Nasehat apabila dilaksanakan seperti apa yang telah kami sebutkan akan melanggengkan kasih sayang, dan menyebabkan terealisasinya ukhuwah.
Imam Ibnu Hazm (wafat tahun 456H) berkata, Maka wajib atas seseorang untuk selalu memberi nasehat, baik yang diberi nasehat itu suka ataupun benci, tersinggung atau tidak tersinggung. Apabila engkau memberi nasehat maka nasehatilah secara rahasia, jangan dihadapan orang lain, dan cukup dengan memberi isyarat tanpa terus terang secara langsung, kecuali apabila orang yang dinasehati tidak memahami isyaratmu maka harus secara terus terang. Janganlah engkau menasehati orang lain dengan syarat nasehatmu harus diterima. Apabila engkau melampaui adab-adab tadi maka engkau yang dzalim bukan pemberi nasehat, dan gila ketaatan serta gila kekuasaan bukan pemberi amanat dan pelaksana hak ukuwah. Ini (-yakni memberi nasehat dengan syarat harus diterima-) bukanlah termasuk hukum akal dan hukum persahabatan melainkan hukum rimba, bagaikan seorang penguasa dengan rakyatnya dan tuan dengan hamba sahayanya.
Imam Ibnu Rajab (wafat tahun 795H) berkata, Al Fudhail (wafat tahun 187H) berkata, ''Seorang mukmin menutup (aib saudaranya) dan menasehatinya sedangkan seorang fajir (pelaku maksiat) membocorkan (aib saudaranya) dan memburuk-burukkannya''.
Apa yang disebutkan oleh al Fudhail ini merupakan ciri antara nasehat dan memburuk-burukkan, yaitu bahwa nasehat itu dengan cara rahasia sedangkan menjelek-jelekkan itu ditandai dengan penyiaran. Sebagaimana dikatakan, ''Barangsiapa mengingatkan saudaranya ditengah-tengah orang banyak maka ia telah menjelek-jelekkannya.
Dan orang-orang salaf membenci amar ma''ruf nahi mungkar secara terang-terangan, mereka suka kalau dilakukan secara rahasia antara yang menasehati dengan yang dinasehati, ini merupakan ciri nasehat yang murni dan ikhlash, karena si penasehat tidak mempunyai tujuan untuk menyebarkan aib-aib orang yang dinasehatinya, ia hanya mempunyai tujuan menghilangkan kesalahan yang dilakukannya.
Sedangkan menyebarluaskan dan menampakkan aib-aib orang lain maka hal tersebut yang diharamkan oleh Allah dan Rasul-Nya. Allah Ta''ala berfirman:
Sesungguhnya orang-orang yang ingin agar (berita) perbuatan yang keji itu tersiar dikalangan orang-orang yang beriman, bagi mereka adzab yang pedih di dunia dan akhirat. Dan Alleh mengetahui sedangkan kalian tidak mengetahui (An Nur : 19).
Dan hadits-hadits yang menjelaskan tentang keutamaan menutup aib seorang muslim tidak terhitung banyaknya.
Imam Syafi''i (wafat tahun 204H) berkata dalam syairnya:
Hendaklah engkau sengaja mendatangiku untuk memberi nasehat ketika aku sendirian
Hindarilah memberi nasehat kepadaku ditengah khalayak ramai
Karena sesungguhnya memberi nasehat dihadapan banyak orang sama saja dengan memburuk-burukkan, saya tidak suka mendengarnya
Jika engkau menyalahi saya dan tidak mengikuti ucapanku maka janganlah engkau kaget apabila nasehatmu tidak ditaati.
Syaikh Muhammad bin Shalih al Utsaimin berkata, Perlu diketahui bahwa nasehat itu adalah pembicaraan yang dilakukan secara rahasia antaramu dengannya, karena apabila engkau menasehatinya secara rahasia dengan empat mata maka sangat membekas pada dirinya, dan dia tahu bahwa engkau pemberi nasehat, tetapi apabila engkau bicarakan dia dihadapan orang banyak maka besar kemungkinan bangkit kesombongannya yang menyebabkan ia berbuat dosa dengan tidak menerima nasehat, dan mungkin pula ia menyangka bahwa engkau hanya ingin balas dendam dan mendeskreditkannya serta untuk menjatuhkan kedudukannya di mata manusia, sehingga ia tidak menerima isi nasehat tersebut, tetapi apabila dilakukan secara rahasia antara kamu dan dia berdua maka nasehatmu itu amat berarti bagi dia, dan dia akan menerimanya darimu.
Kapan dibolehkan memberi nasehat dihadapan orang lain?
Walaupun demikian ada beberapa perkecualian yang membolehkan atau mengharuskan seseorang untuk menasehati orang lain di depan banyak orang.
Salah seorang Imam Masjid di kota Khobar Saudi Arabia dalam salah satu khutbah Jum''ahnya mengatakan, Umat Islam, mereka itu memiliki kehormatan dan harga diri, oleh karena tiu haruslah kita menjaga hak-hak dan kehormatan mereka, haruslah kita memelihara perasaan mereka, tetapi kadang-kadang sesuatu nasehat yang akan engkau sampaikan kepada orang lain apabila engkau tunda, maka akan terlambat, maka harus sekarang juga engkau menasehatinya sebelum terlambat. Contohnya sebagaimana terdapat dalam Shahih Muslim. Dari Jabir bahwasanya ia berkata, ''Sulaik al Ghathafani datang (ke masjid) hari Jum''ah dan Rasulullah shallallahu ''alaihi wasallam sedang duduk di atas mimbar, maka Sulaik langsung duduk tanpa shalat terlebih dahulu, maka Rasulullah shallallahu ''alaihi wasallam bertanya kepadanya, ''Apakah engaku telah melaksanakan sholat dua rakaat?'' Ia berkata, ''Belum'' Maka beliau shallallahu ''alaihi wasallam memerintahkan kepadanya, ''Bangunlah dan shalatlah dua rakaat''.''
Ini bukannya sedang memburuk-burukkan atau menyiarkan kesalahan orang tersebut, karena saat itu adalah waktu yang tepat untuk menasehatinya, apabila dibiarkan maka akan terlewatkan, karena Rasulullah shallallahu ''alaihi wasallam memerintahkan setiap muslim yang masuk ke dalam masjid agar shalat dua rakaat terlebih dahulu sebelum ia duduk, perintah tersebut mengharuskan untuk dilaksanakan padaa saat itu juga tidak bisa ditunda sampai selesai shalat Jum''ah.
Akan tetapi apabila memungkinkan bagimu untuk menunda nasehat sampai selesainya majelis lalu engkau menasiehati sesreorang dihadapan orang lain di majelis tersebut maka hal ini tidak benar.
Penutup
Sebagai penutup marilah kita simak ucapan Syaikh Muhammad bin Shalih al Utsaimin dalam salah satu ceramahnya, Sangat disayangkan sekali ketika saya mendengar tentang ornag-orang yang termasuk memiliki kesungguhan dalam mencari dan menerima kebenaran, akan tetapi mereka berpecah belah, masing-masing di antara mereka memiliki nama dan sifat tertentu. Fenomena seperti ini sesungghunya tidak benar, dan sesungguhnya dien Allah itu satu dan ummat Islam adalah ummat yang satu, Allah berfirman:
Sesunggunya (agama tauhid) ini adalah agama kalian semua, agama yang satu dan Aku adalah Rab kalian maka bertakwalah kepada-Ku .(Al Mu-minun: 52)
Dan Allah Ta''ala berfirman kepada nabi-Nya shallallahu ''alaihi wasallam:
Sesungguhnya orang-orang yang memecah belah agamanya dan mereka (terpecah) menjadi beberapa golongan, tidak ada sedikitpun tanggung jawabmu terhadap mereka. Sesungguhnya urusan mereka hanyalah (terserah) kepada Allah, kemudian Allah akan memberitahukan kepada mereka apa yang telah mereka perbuat. (Al An''am : 159)
Dan Allah Ta''ala berfirman,
Dia telah mensyaratkan bagi kalian tentang dien yang telah diwasiatkan kepada Nuh dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu dan apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan Isa, yaitu tegakkanlah dien dan janganlah kalian berpecah belah tentangnya .(Asy Syura: 13).
Apabila hal ini merupakan bimbingan Allah kepada kita maka seharusnya kita praktekkan bimbingan ini, kita berkumpul untuk mengadakan suatu pembahasan, saling berdiskusi dalam rangka ishlah (perbaikan) bukan untuk mendeskreditkan atau membalas dendam, karena sesungguhnya siapa saja yang membantah orang lain atau adu argumentasi dengan maksud mempertahankan pendapatnya atau untuk menghinakan pendapat orang lain dan bermaksud untuk mencela bukan untuk ishlah maka hasilnya tidak di ridhai oleh Allah dan rasul-Nya, pada umumnya demikian.
Kewajiban kita adalah untuk menjadi umat yang satu, saya tidak mengatakan bahwa setiap manusia tidak memiliki kesalahan, bahkan manusia itu memiliki kesalahan disamping memiliki kebenaran. Hanya saja pembicaraan kita sekarang ini mengenai cara memperbaiki kesalahan, maka bukan cara yang benar untuk memperbaiki kesalahan apabila saya menyebutkannya dibelakang orang tersebut sambil menjelek-jelekkannya, akan tetapi cara yang benar untuk memperbaikinya adalah berkumpul dengannya dan mendiskusikannnya, apabila terbukti setelah itu bahwa orang tersebut tetap mempertahankan kebatilannya maka saat itu saya memiliki alasan bahkan wajib atas saya untuk menjelaskan kesalahannya, dan memperingatkan manusia dari kesalahan orang tersebut, dengan demikian urusan-urusan menjadi baik.
Sedangkan perpecahan dan bergolong-golongan maka sesungguhnya yang demikian tidak disukai oleh siapapun, kecuali oleh musuh-musuh Islam dan musuh kaum muslimin.
BILA AJAL MULAI MENDEKAT
submitted by : Miftachul Arifin
sumber : NULL
Baginda Rasullullah S.A.W berkata:
Apabila telah sampai ajal seseorang itu maka akan
masuklah satu kumpulan malaikat ke dalam
lubang-lubang kecil dalam badan dan kemudian mereka
menarik rohnya melalui kedua-dua telapak kakinya
sehingga sampai kelutut. Setelah itu datang pula
sekumpulan malaikat yang lain masuk menarik roh dari
lutut hingga sampai ke perut dan kemudiannya mereka
keluar. Datang lagi satu kumpulan malaikat yang lain
masuk dan menarik rohnya dari perut hingga sampai ke
dada dan kemudiannya mereka keluar.
Dan akhir sekali datang lagi satu kumpulan malaikat
masuk dan menarik roh dari dadanya hingga sampai ke
kerongkong dan itulah yang dikatakan saat nazak
orang itu."
Sambung Rasullullah S.A.W. lagi:
"Kalau orang yang nazak itu orang yang beriman, maka
malaikat Jibrail A.S. akan menebarkan sayapnya yang
disebelah kanan sehingga orang yang nazak itu dapat
melihat kedudukannya di syurga. Apabila orang yang
beriman itu melihat syurga, maka dia akan lupa
kepada orang yang berada disekelilinginya. Ini
adalah kerana sangat rindunya pada syurga dan
melihat terus pandangannya kepada sayap Jibrail
A.S." Kalau orang yang nazak itu orang munafik, maka
Jibrail A.S. akan menebarkan sayap disebelah kiri.
Maka orang yang nazak itu dapat melihat kedudukannya
di neraka dan dalam masa itu orang itu tidak lagi
melihat orang disekelilinginya. Ini adalah kerana
terlalu takutnya apabila melihat neraka yang akan
menjadi tempat tinggalnya.
Dari sebuah hadis bahwa apabila Allah S.W.T.
menghendaki seorang mukmin itu dicabut nyawanya maka
datanglah malaikat maut. Apabila malaikat maut
hendak mencabut roh orang mukmin itu dari arah mulut
maka keluarlah zikir dari mulut orang mukmin itu
dengan berkata:
"Tidak ada jalan bagimu mencabut roh orang ini
melalui jalan ini kerana orang ini sentiasa
menjadikan lidahnya berzikir kepada Allah S.W.T."
Setelah malaikat maut mendengar penjelasan itu, maka
dia pun kembali kepada Allah S.W.T. dan menjelaskan
apa yang diucapkan oleh lidah orang mukmin itu. Lalu
Allah S.W.T. berfirman yang bermaksud:
"Wahai malaikat maut, kamu cabutlah ruhnya dari arah
lain."
Sebaik saja malaikat maut mendapat perintah Allah
S.W.T. maka malaikat mautpun coba mencabut roh orang
mukmin dari arah tangan.Tapi keluarlah sedekah dari
arah tangan orang mukmin itu, keluarlah usapan
kepala anak-anak yatim dan keluar penulisan ilmu.
Maka berkata tangan:
"Tidak ada jalan bagimu untuk mencabut roh orang
mukmin dari arah ini, tangan ini telah mengeluarkan
sedekah, tangan ini mengusap kepala anak-anak yatim
dan tangan ini menulis ilmu pengetahuan."
Oleh kerana malaikat maut gagal untuk mencabut roh
orang mukmin dari arah tangan maka malaikat maut
cuba pula dari arah kaki.
Malangnya malaikat maut juga gagal melakukan sebab
kaki berkata:
"Tidak ada jalan bagimu dari arah ini kerana kaki
ini sentiasa berjalan berulang alik mengerjakan
solat dengan berjemaah dan kaki ini juga berjalan
menghadiri majlis-majlis ilmu." Apabila gagal
malaikat maut mencabut roh org mukmin dari arah
kaki,maka malaikat maut cuba pula dari arah telinga.
Sebaik saja malaikat maut menghampiri telinga maka
telinga pun berkata: "Tidak ada jalan bagimu dari
arah ini kerana telinga ini sentiasa mendengar
bacaan Al-Quran dan zikir."
Akhir sekali malaikat maut cuba mencabut orang
mukmin dari arah mata tetapi baru saja hendak
menghampiri mata maka berkata mata:
"Tidak ada jalan bagimu dari arah ini sebab mata ini
sentiasa melihat beberapa mushaf dan kitab-kitab dan
mata ini sentiasa menangis kerana takutkan Allah."
Setelah gagal maka malaikat maut kembali kepada
Allah S.W.T.
Kemudian Allah S.W.T. berfirman yang bermaksud:
"Wahai malaikatKu, tulis AsmaKu ditelapak tanganmu
dan tunjukkan kepada roh orang yang beriman itu."
Sebaik saja mendapat perintah Allah S.W.T. maka
malaikat maut menghampiri roh orang itu dan
menunjukkan Asma Allah S.W.T. Sebaik saja melihat
Asma Allah dan cintanya kepada Allah S.W.T maka
keluarlah roh tersebut dari arah mulut dengan
tenang.
Abu Bakar R.A. telah ditanya tentang kemana roh
pergi setelah ia keluar dari jasad. Maka berkata Abu
Bakar R.A: "Roh itu menuju ketujuh tempat:
1.Roh para Nabi dan utusan menuju ke Syurga Adnin.
2.Roh para ulama menuju ke Syurga Firdaus.
3.Roh mereka yang berbahagia menuju ke Syurga
Illiyyina.
4.Roh para shuhada berterbangan seperti burung di
syurga mengikut kehendak mereka.
5.Roh para mukmin yang berdosa akan tergantung di
udara tidak di bumi dan tidak di langit sampai hari
kiamat.
6.Roh anak-anak orang yang beriman akan berada di
gunung dari minyak misik.
7.Roh orang-orang kafir akan berada dalam neraka
Sijjin, mereka diseksa berserta jasadnya hingga
sampai hari Kiamat."
Telah bersabda Rasullullah S.A.W :
"Tiga kelompok manusia yang akan dijabat tangannya
oleh para malaikat pada hari mereka keluar dari
kuburnya :
1.Orang-orang yang mati syahid.
2.Orang-orang yang mengerjakan solat malam dalam
bulan ramadhan.
3.Orang berpuasa di hari Arafah.
Insya Allah kita termasuk kelompok yang tersebut
diatas
Amin ya robbal 'Alamiin
Bersyukurlah
Syukur dapat diartikan sebagai mempergunakan suatu pemberian Allah sesuai dengan yang ditentukan oleh Allah. Termasuk dalam golongan orang yang tidak bersyukur ialah orang yang tidak mempergunakan pemberian Allah dan membiarkan pemberian itu begitu saja.
Beberapa tindakan yang menandakan rasa syukur ialah :
1. Merasa gembira atas suatu pemberian yang diterima
2. Menyatakan kegembiraan dengan ucapan dan perbuatan
3. Memelihara pemberian dengan baik dan mempergunakannya sesuai dengan yang dikehendai oleh pemberi
4. Membalas pemberian tersebut. Jika kepada Allah maka dibalas dengan mempergunakan karuia-Nya dengan landasan patuh dan taat kepada-Nya. Jika kepada manusia, maka pemberian itu dibalas dengan pemberian lain atau sekurang-kurangnya dengan do’a
Beberapa sebab kufur nikmat :
1. Karena kebodohan. Harta kekayaan atau sebagainya yang dianugerahkan oleh Allah tidak dapat mereka fahami sebagai nikmat Allah. Bahkan mereka merasa datangnya atas usaha mereka . Mereka lupa dan lalai bahwa itu ialah nikmat Allah yang perlu dibalas dengan rasa syukur. Apabila mereka ditimpa bencana atau sakit, atau kesusahan, mereka mulai memohon pertolongan Allah.
2. Ada orang yang mengetahui nikmat Allah tetapi enggan bersyukur atau melakukan tindakan yang menyatakan syukur. Ini disebabkan karena mereka terpengaruh oleh hawa nafsu.
3. Kufur nikmat disebabkan mereka yang selalu melihat ke atas dan tidak melihat ke bawah. Disebabkan ia selalu melihat ke atas maka ia biasanya tidak mudah merasa cukup dengan apa yang dia ada. Dia selalu ingin menambah apa yang ada padanya dan merasa tidak cukup apa yang ada. Jika ia memandang ke bawah tentu ia merasa syukur karena ia mempunyai lebih dari orang lain.
Bencana yang menimpa juga perlu diterima dengan rasa syukur kerana:
1. Setiap bencana yang menimpa kita haruslah diterima dengan rasa syukur kerana Allah sebenarnya dapat menimpakan bencana yang lebih besar.
2. Bencana yang ditimpakan adalah merupakan peluang untuk memperoleh ganjaran di sisi Allah yaitu ganjaran kerana ia bersabar. Firman Allah "Sesungguhnya orang-orang yang sabar itu akan dipenuhi pahalanya tanpa ada batas hitungannya." (QS. Az Zumar 10)
3. Suatu bencana dari Allah di dunia adalah merupakan kifarat kepada dosa yang kita telah lakukan agar kita insaf. Bayangkan jika Allah tangguhkan hukumanNya hingga akhirat, maka kita akan lebih menderita karena satu hari di akhirat sama dengan 1000 tahun di dunia serta siksaan di akhirat adalah jauh lebih mengerikan. Sabda Rasulullah:"Jika Allah menghendaki kebaikan bagi seorang hambaNya, maka Ia turunkan siksaanNya di dunia dan jika menghendaki kebinasaanNya, maka ia menangguhkan dosanya hingga Ia membalasnya di akhirat." Durratun Nashihin
Balasan bagi mereka yang bersyukur :
1. Orang yang bersyukur tidak akan disiksa oleh Allah: Firman Allah: "Mengapa Allah menyiksamu, jika kamu bersyukur dan beriman? Allah adalah Maha Mensyukuri lagi Maha Mengetahui." (QS. An Nisaa 147)
2. Orang yang bersyukur diberi tambahan nikmat oleh Allah. Firman Allah: “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, nescaya akan Ku tambahkan nikmat Ku dan jika kamu kufur, maka sesungguhnya azabKu amatlah pedih" (QS. Ibrahim 7)
3. Orang yang bersyukur akan merasakan ketenteraman jiwa dan memiliki sifat merasa cukup dengan apa yang ada (qanaah). Dia tidak merasa resah kerana kekurangan yang ada pada dirinya.
4. Orang yang bersyukur menafaatkan apa yang telah dikurniakan kepadanya sebaik mungkin sebagai suatu nikmat dari Allah.
5. Orang-orang yang bersyukur akan mudah dalam pergaulan dan disenangi masyarakat.
BERSYUKURLAH …
Bersyukurlah karena engkau tidak memiliki semua yang diinginkan. Jika engkau memiliki semuanya, apa lagi yang hendak dicari ?
Bersyukurlah atas masa-masa sulit yang engkau hadapi. Karena selama itulah engkau tumbuh menjadi dewasa
Bersyukurlah atas setiap tantangan baru. Karena hal itu akan membangun kekuatan dan karaktermu
Bersyukurlah atas kesalahan-kesalahan yang engkau perbuat. Karena hal itu memberimu pelajaran yang sangat berharga
Bersyukurlah ketika engkau lelah dan tak berdaya. Karena berarti engkau telah membuat suatu perbedaan
Adalah mudah untuk bersyukur atas hal-hal yang baik, adapun kehidupan yang bermakna adalah bagi mereka yang juga bersyukur atas kesulitan yang dihadapi
Rasa syukur bisa mengubah hal negatif menjadi positif. Berusahalah bersyukur atas kesulitan yang engkau hadapi. Sehingga kesulitan itu akan menjadi berkah bagi dirimu.
Langganan:
Postingan (Atom)